Sabtu, 26 November 2016

mentari di ujung senja

Kaki-kaki berlarian, hentakkan sepatu saling mengejar diiringi canda tawa, terdengar memekik di telinga Aisyah, selagi bola matanya masih sibuk menyisir suasana riuh, riang wajah-wajah calon teman-temannya itu. Tak sadar sedari tadi bibirnya pun menyimpul senyum termanis tak kalah senangnya dibanding mereka. Bahkan ia dapat melihat kelap-kelip binar tersuar, berpendar ke luar dari aura ruang kelas itu berwarna-warni, tampak bercahaya. Telah lama ia rindukan hari ini. Selalu menantikan suasana di hadapnya. Dan akhirnya Tuhan memberikan kesempatan untuknya mengecap rasa itu lagi. Suka cita bersekolah! Sungguh hatinya serasa ingin ke luar dan menari sampai kakinya tak sanggup berdiri lagi. Tak ada satu kata pun yang dapat menggambarkan perasaannya itu.
Tahun lalu Aisyah mogok sekolah. Tidak melanjutkan ke jenjang SMP setelah lulus dari SD, lantaran orangtuanya tak mampu dengan biaya sekolah pada masa itu. Ayahnya bilang agar Aisyah sementara tinggal di rumah saja. Belajar melukis bersamanya. Gadis berperawakan kecil dan berambut sebahu itu menurut, meski hatinya tetap ingin sekolah. Aisyah murid yang cerdas. Selalu mendapat peringkat 5 besar di kelas. Selama setahun di rumah ia rajin belajar melukis dari bimbingan sang Ayah, meski Ayahnya jarang pulang. Entah urusan kerja atau yang lain, Aisyah tak pernah tahu.
Suatu hari ia mendengar kabar bahwa tahun ajaran sekolah akan segera usai. Ia kegirangan. Hasrat terpendam kembali mencuat. Dengan semangat menggebu-gebu ia mengungkapkan pada sang Ayah keinginannya untuk sekolah lagi. Beliau setuju. Toh, kini Ibunya sudah berangkat ke luar negeri menjadi TKW (Tenaga Kerja Wanita) dan selalu mengirimkan uang bulanan ke rumah, meski tak pernah cukup karena kebutuhan keluarga yang lebih besar dari pendapatan. Sementara itu, kebetulan di Desanya ada program bantuan sekolah dari pemerintah untuk keluarga tak mampu. Tak disangka-sangka Pak RT pun sudah mengikutkan Aisyah sebagai penyandang beasiswa tersebut. Lengkap sudah kebahagiaan Aisyah. Cita-citanya untuk sekolah lagi akan segera terwujud.
Lalu tibalah hari ini. Hari ketiga MOS (Masa Orientasi Siswa) di sekolah barunya itu. Aisyah masih senyam-senyum, namun tetap duduk manis di bangkunya karena memang ia tak mengenal satu teman pun. Rasanya seperti pertama masuk sekolah saja. Jantungnya berdebar-debar hingga perutnya mulas seperti ada yang berterbangan di dalam sana. Suasana ruang kelas agak tenang dan semua murid duduk di bangku masing-masing karena sesaat lalu bel tanda Guru pembimbing atau Kakak pembina akan segera masuk dan mengisi agenda untuk hari ini.
Seorang wanita yang mengenakan seragam dinas warna cokelat dan berjilbab berjalan masuk melewati pintu, berhenti di depan kelas, lalu membuka sebuah map di depan mukanya.
“Yang namanya disebut, harap ke luar dan lapor ke ruang TU (Tata Usaha).” Kata wanita itu, lalu mulai melafalkan satu demi satu nama murid, dan kemudian mereka yang disebut langsung ke luar kelas. Aisyah baru ingat dia seseorang yang bertugas di ruang TU, ketika namanya ikut terlantun dari mulut wanita itu. Ia bangkit dan segera berlalu menuju ruang TU.
Beberapa murid tengah mengerubungi salah satu meja, saat Aisyah memasuki ruangan yang terletak di antara ruang kepala sekolah dan toilet guru itu. Kemudian ia pun ikut membaur. Baris berjajar, menunggui giliran di belakang seorang murid laki-laki. Setelah masing-masing mendapat selebaran kertas yang bertuliskan daftar keterangaan biaya yang belum dilunasi dan sebuah kartu peserta -yang mendapat- beasiswa. Aisyah dan semua murid mendengarkan keterangan petugas TU yang mewajibkan mereka untuk menyelesaikannya sebelum MOS berakhir, karena senin depan dimulainya pelajaran semester pertama sekolah. Yang artinya harus ‘hari ini’.
Aisyah termenung menatapi selembar kertas dan sebuah kartu hijau di tangan, sambil sesekali menengok ke arah bangunan sekolah di belakangnya. Beberapa saat lalu hatinya kepalang senang, sekarang ia hanya anak malang. Tak disangka-sangka Ayahnya tidak membayarkan biaya pendaftaran dirinya, dan kini entah di mana dia berada. Aisyah bingung. Padahal ia tahu uang itu diamanahkan oleh Ibunya khusus untuk biaya sekolahnya. Ada kesal, sedih, bingung, bercampur menjadi satu. Dan sekarang, di kantongnya hanya cukup untuk ongkos pulang saja. Nenek Aisyah selalu memberinya uang saku yang pas-pasan. Bahkan selama sekolah ia tak pernah jajan.
Kertas itu kembali diliriknya. Sangat jelas, seolah huruf-huruf bertinta hitam di atas lembar putihnya mencolok bening pupil hingga sakitnya menjalar menusuk-nusuk jantung. Sedangkan kartu itu seperti pasien yang perlu dilarikan ke UGD (Unit Gawat Darurat) di Dinas pendidikan karena nama wali murid yang tertera tidak sesuai dengan nama di Ijazah SD-nya. Pilihannya sudah jelas tinggal satu, yaitu memperbaiki kartu itu hari ini juga ke Dinas Pendidikan. Tapi kendalanya adalah … pulang ke rumah? Untuk apa? Ia tak yakin Neneknya punya uang lebih untuk saat ini. Makan sehari-hari saja selalu gali lubang tutup lubang. Tapi bila tak segera, maka senin besok ia tak dibolehkan masuk kelas. Tenggorokannya serasa terganjal sesuatu yang padat dan keras. Awan semakin menggelap di atas kepalanya.
Tidak. Ia tidak mau membuang kesempatan di depan mata begitu saja. Susah payah sudah berjuang sejauh ini lalu menyerah karena setitik goresan terbalik? Tidak! Semua itu tak akan menggoyahkan niat yang sungguh-sungguh telah diusung di dalam hatinya. Ia harus berjuang sampai titik darah penghabisan. Ia harus bisa. Ia pasti bisa! Kata Guru TU, Kantor Dinas pendidikan terletak di sebelah Kantor Polres di Kecamatan. Maka di sinilah Aisyah berada.
“Assalamualaikum, Pak,” tegur Aisyah pada dua Pak polisi yang berdiri di depan bangunan yang ia yakini sangat ditakuti Para penjahat itu.
“Ya, Dek. Ada apa?” sahut salah satunya, tersenyum ramah.
“Saya mau memperbaiki kartu ini,” kata Aisyah sambil menunjukan kartu hijau di tangannya itu.
“apa di sini Dinas pendidikan?” lanjutnya, saat kartu tersebut telah berpindah tangan di Pak polisi.
“Oh, ini bukan Dinas pendidikan, Dek.” Dua polisi itu terkikik geli.
“Saya bisa lihat, Pak. Tapi Guru saya bilang kantor Dinas Pendidikan letaknya di sebelah kantor Polisi,” Aisyah menerangkan. Agak kesal sudah ditertawakan.
“Mungkin maksud Guru Adek setelah kantor Polres, memang beberapa kilo dari sini ada Dinas Pendidikan di sebelah SD di pasar induk.”
“Kalau begitu saya salah dong, Pak.” keluh Aisyah, menundukkan kepala karena rasa malu yang merayapi wajahnya hingga menjadi merah.
“Ya sudah, terima kasih banyak ya, Pak,” lanjut Aisyah berlalu, setelah dua Pak polisi itu mengingatkannya untuk berhati-hati.
Aisyah kembali mendapati kegusarannya makin melebar karena receh di balik kantongnya hanya cukup untuk sekali jalan. Namun ia juga tahu, letak pasar induk hanya beberapa kilometer dari tempatnya berdiri.
Hari makin siang. Hangat mentari sudah berubah menjadi sinar yang menyengat kulit dan mengucurkan keringat yang ke luar dari pori-porinya. Aisyah mengelap keningnya dengan punggung telapak tangan, sambil setia menyusuri jalan setapak yang terasa kian melangkah kian panjang saja kelihatannya. Tenggorokannya kering seolah butir pasir tersebar di dalam sana. Dalam benaknya ia bertekad tak akan menyerah. Ia ingin sekolah. Belajar, berteman, dan menwujudkan cita-citanya yang suatu hari ingin menjadi orang yang berguna. Untuk orangtuanya dan Negara tercinta. Ia ingin menjadi seorang Guru. Dan ia tahu hanya dirinyalah yang dapat merubah nasib. Ia tak mau menyalahkan Ayahnya yang pergi membawa uang sekolah ataupun teriknya matahari hari ini.
Setelah 45 menit berjalan, akhirnya sampai jua Aisyah di depan Kantor Dinas Pendidikan. Tercantum huruf kapital di atas pintunya -tak salah lagi ini benar tempat tujuannya. Dengan separuh perasaan lega ia melewati pintu dan langsung disambut oleh meja dan tumpukan map-map yang berwarna-warni di depan mata.
“Assalamualaikum,” sapa Aisyah, “Saya mau memperbaiki nama yang tertera di kartu ini.” selagi tangan kanannya menyodorkan sebuah kartu hijau kepada seorang Pria yang duduk di belakang meja yang berantakan itu.
“Taruh saja di atas meja.” kata Pria itu tanpa menoleh sedikit pun. Pandangannya lurus, berkutat dengan bulpoin hitam di atas kartu-kartu mirip milik Aisyah. Ia mencorat-coret huruf -yang mungkin- tidak sesuai atau yang perlu diperbaiki. Bola matanya nyaris lepas, saat tahu bahwa kartu-kartu bermasalah itu memang persis seperti miliknya dan jumlahnya ada puluhan. Belum lagi yang ada di dalam map warna-warni itu. Ia menelan ludah.
“Pak, boleh tahu kartu saya sampai kapan selesai diperbaiki?” kedengarannya memang tidak sopan. Mengingat, pasti, Bapak itu cape sekali dengan ratusan kerjaan yang harus diselesaikannya itu. Namun hatinya seolah berteriak, tak dapat diredam, ingin segera tahu agar hilang ganjalan itu. Resah itu. Bapak itu mendongak, matanya mengunci mata Aisyah. Tatapannya nanar. Sedikit tampak kesal sudah terganggu. “Dek, kamu lihat sendiri kan kasus yang sama seperti milikmu itu tidak sedikit,” ia menghela napas, “jadi Bapak tidak tahu. Tapi Bapak akan mengusahakan secepat mungkin.”
Sebenarnya Aisyah ingin bertanya lebih lanjut, bagaimana kalau kartu miliknya sampai telat atau tidak dapat diperbaiki lagi? Sedangkan Guru TU sudah menjelaskan dengan rinci perihal murid-murid yang belum melunasi pendaftaran tidak diperbolehkan ikut pelajaran untuk senin depan. Apakah mimpinya akan berakhir sampai di sini? Cita-citanya untuk bersekolah akan terbengkalai sebelum mulai? Menjadi Guru. Mengajar di depan kelas dan sesekali memberikan hukuman kepada anak yang bandel, mungkin akan selalu menjadi angan-angan saja.
Bening hangat tak terasa telah luruh di pipi Aisyah. Kembali ganjalan yang padat dan keras itu memenuhi kerongkongannya. Ia menundukkan kepala. Rasa lesuh tiba-tiba merayapi tubuhnya.
Saat pikirannya berkabut, gemericik air hujan kian lebat yang seragam merah putihnya langsung dibuat kuyup di sore yang gelap itu. Dengan gontai ia menyeberangi jalan raya, menunggu kendaraan umum di sisi lain jalan, hendak menuju rumah.
Tiba-tiba dari kejauhan tampak sebuah mobil Avanza hitam yang melaju dengan kecepatan di atas normal tergelincir di atas aspal karena rintik air hujan yang melicinkan putaran roda hingga menyebabkan laju mobil tidak stabil. Aisyah mendongak, ketika tepat, sinar lampu mobil yang menyilaukan pandangan, disusul decitan dan gemuruh kilat menyambar menerjang tubuhnya. Ia terpelanting beberapa meter, jatuh seperti karung kentang, tergeletak di atas aspal. Seketika itu juga pandangannya menghitam.
Cicitan suara burung liar terdengar merdu seolah bersahut-sahut menyambut kuning keemasan sinar mentari yang seperti malu-malu mengintip di balik awan. Tak kalah merdunya dengan gelak tawa gadis-gadis kecil -jenjang TK- yang tengah menyirami warna-warni bunga di depan kelas mereka. Hari ini ‘hari berkebun’ yang sudah dijadikan rutinitas Yayasan Pendidikan tingkat TK, SD, SMP sampai SMU tersebut. Sedangkan kelas yang lain juga tampak sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang mencabuti rumput, menanam pohon baru, memberi pupuk dan ada pula yang saling dorong dengan teman-temannya. Semua murid tampak menikmati hari yang indah ini. Sinar mentari serasa tersenyum tak henti-hentinya seperti senyum seorang wanita yang duduk di kursi roda yang tengah menyiram bunga bersama gadis-gadis kecil di samping kanan kirinya.
“Bu, mawarnya sudah mekar, sudah mekar!” teriak salah satu dari mereka, melompat-lompat kecil, kegirangan.
“Ah … kamu benar, Nila,” sahut wanita berkursi roda itu.
“Ini semua berkat kerajinan kalian merawat bunga-bunga ini dan selalu giat belajar.” lanjut wanita tua itu, memuji mereka yang serempak menjawab dengan, “Itu aku, Bu!?” Wanita tua itu terkikik geli melihat tingkah lucu murid-muridnya itu.
“Ibu kepala sekolah, sekarang sudah saatnya,” sela Ibu Nining, wakil kepala sekolah.
Wanita tua itu tersenyum, kala mendongak ke arah Ibu Nining.
Lalu berkata, “Bu Nining, cukup panggil saya Bu Aisyah saja. Tidak perlu formal di hari berkebun.”
Wanita tua itu, -Bu Aisyah- dalam hatinya tak henti-hentinya mengucap syukur atas segala karunia yang Tuhan berikan. Perjuangannya selama ini tidak sia-sia. Semangatnya yang menggebu-gebu dari dulu tak pernah padam, meski rintangan menerjang dan cobaan silih berganti, ia tetap melanjutkan sekolah agar terwujud cita-cita sucinya. Begitu pula ia selalu mengingatkan anak-anak didiknya, karena bila bersungguh-sungguh semua pasti tercapai. Cita-citanya menjadi seorang Guru, telah tercapai.

aku ingin seperti mereka

Namaku Gentar. Aku seorang yatim piatu. Aku tinggal sebatang kara di sebuah tempat yang tak asing kalian dengar. Ya di bawah kolong jembatan. Ini adalah kisah hidupku yang termotivasi dari segala perjuangan hidupku. Mentari bersinar cerah. Ya.. Pagi itu ku bangun tepat jam 05.00 pagi. Seperti biasanya aku tidak pernah bangun terlambat, karena aku adalah anak mandiri dan selalu termotivasi oleh waktu.
Pukul 05.30 aku siap untuk berkeliling lagi menyusuri lorong-lorong dan jalan raya yang begitu panjang untuk menjual kue pisang yang ku buat sendiri. Setiap pagi aku mengunjungi rumah atau tempat yang biasanya membeli kueku. Tak peduli dengan teriknya matahari yang telak menusuk ubun-ubunku, aku terus berjalan demi mendapatkan sepiring nasi. Entah mengapa ketika ku temukan segala kesulitan hidup, aku selalu tersenyum dan tertawa.
Suatu hari seperti biasanya aku menyusuri kembali jalan raya dan lorong-lorong dengan penuh harapan yang menggelora. Tibalah aku di sebuah tempat yang yah.. mungkin bagi kalian itu adalah tempat yang sering kalian kunjungi tiap hari. Ya. Itu adalah sebuah sekolah, tepatnya SMA KARYA BUMI. Salah satu sekolah yang elit dan bermutu di kotaku. Aku selalu berdiri di depan gerbang sekolah itu untuk menunggu jam istirahat para murid. Waktu terus berjalan dan lumayanlah, kueku semua laku terjual.
Tidak sadar bahwa setiap hari aku selalu mengunjungi sekolah itu. Dan entah kenapa ketika aku melihat anak-anak seumuran denganku, aku selalu, merasa iri dengan mereka. Aku dan mereka adalah sama-sama anak negeri ini, memiliki postur tubuh yang sama, memiliki keinginan yang sama dan memiliki potensi yang sama, akan tetapi mengapa mereka mendapatkan hal yang tidak seimbang dengan keadaanku? Apakah aku juga tidak berhak untuk menjadi seperti mereka?
Dan ketika ku berdiri di depan pintu gerbang sekolah itu. Aku menatap anak-anak itu, dan berdoa dalam hati, “Tuhan, aku ingin seperti mereka.” Ya. Itulah doaku.
Sekian

the light

“Peringatan HUT RI yang ke-70 tahun ini kenapa begitu sepi? Tidak meriah seperti tahun lalu.”
“Pada sibuk mungkin.”
“Sibuk? Tapi setiap tanggal 17 Agustus di kalender pasti bewarna merah, itu pertanda libur. Apa itu yang dinamakan sibuk sampai melupakan HUT negara sendiri?”
Ku lemparkan bola volly kepada temanku yang sedari tadi mengomel soal sepinya perayaan HUT Republik Indonesia yang ke-70 tahun, panggil saja dia Rendra.
“Jangan mengeluh begitu kawan,” kataku yang mencoba menengahi omelan Rendra, jika tidak distop pasti dia akan terus mengomel.
“Gue jadi ingat masa kecil, setiap tanggal 17an pasti akan ada lomba, seperti lomba makan kerupuk, lomba tangkap belut, sendok kelereng, lomba balap karung, panjat pinang. Ah gue benar-benar merindukan momen itu,” kata Rendra. Aku tersenyum saat mendengar ucapan Rendra, bukan hanya Rendra yang merindukan momen-momen itu, aku juga merindukannya, bahkan sangat merindukan.
“Sudahlah, jangan ngomel mulu. Mending kita ke kelas sekarang, aku baru ingat jika bentar lagi ada ulangan sejarah.”
Rendra menatapku tidak percaya, “Serius? Mati gue belum belajar.”
Namaku Yudha, Syudha Bahroni lebih tepatnya. Aku adalah murid kelas 12 di salah satu SMA favorit di kotaku.
“Taruh tas dan buku kalian di depan, kita mulai ujian. Jika Bapak menemukan contekan atau buku yang kalian sembunyikan, Bapak tidak segan-segan untuk memberi nilai 0 di raport kalian.”
Mendengar perkataan Pak Brewok barusan membuat seisi kelas yang awalnya ramai karena sibuk mencari teman contekan mendadak hening. Kami anak XII-1 IPS cukup takut dengan Pak Brewok, karena kami memiliki masa lalu yang cukup kelam dengan beliau. Salah satu temanku dulu pernah ketahuan menyontek ketika ujian Sejarah, yaitu mata pelajaran yang diajarkan oleh Pak Brewok, dan sesuai janji.
Beliau memberikan nilai 0 untuk pelajaran Sejarah di raport, tapi bukan 1 orang yang mendapatkan nilai 0, tapi seluruh murid kelas XII-1 IPS mendapat nilai 0. Karena kesalahan 1 orang, semua orang terkena imbasnya. Peribahasa yang cocok adalah, seekor kerbau berkubang, semua kena lulutnya. Seseorang yang berbuat salah, semua menanggung akibatnya. Tenggorokan terasa kering seketika saat melihat kertas bertulisan ‘Ujian Sejarah’ yang baru saja dibagikan oleh pak Brewok, soal itu sudah berada di atas meja dan aku sama sekali belum menyentuh selain melihatnya.
“Waktu mengerjakan 45 menit,” seru Pak Brewok yang membuat aku dan seisi kelas tercengang, dengan tangkas ku ambil pensil dan membuka kertas-kertas berisi soal-soal. Soal-soal Sejarah yang sama sekali tidak ku pahami dan 1 soal harus dikerjakan dalam waktu kurang lebih 50 detik?
“Mati aku, soal macam apa ini?” tanyaku sembari menggaruk rambut yang tidak gatal, pulang-pulang aku bisa gila ini. Mataku menyapu ke arah sekitar, saat Pak Brewok sedang tidak memperhatikan.
Teman-temanku memanfaatkan kesempatan itu untuk menyontek, meskipun buku LKS, buku tulis, atau buku paket berada di depan lebih tepatnya di meja Pak Brewok tapi mereka sebelumnya telah membuatnya contekan atau replekan yang berisi materi Sejarah di kertas lain lalu menyalinnya di kertas ujian, ada juga yang dengan melakukan bisik-bisik tetangga untuk mencari jawaban saat pak Brewok lengah.
Cara kuno memang, tapi terbukti masih banyak yang menggunakan cara itu hanya demi sebuah nilai bagus di raport. Apa gunanya nilai bagus jika mendapatkannya dengan cara yang tidak halal atau dengan kata lain curang? Aku memang tidak bisa Sejarah, tapi aku berusaha mengerjakan semua ini jujur walau dengan resiko nilai jelek, tapi aku tidak peduli, yang terpenting aku sudah berusaha dan yakin dengan kemampuanku.
“Ya Allah, semoga nilai ulangan ini bagus amin…”
Selama 45 menit aku mengerjakan ulangan, dan selama 45 menit aku hanya bisa bertawakal kepada Allah setelah mati-matian mengerjakan ulangan Sejarah yang sama sekali tidak ku pahami. Hari ini ku putuskan untuk pulang lebih cepat, tidak berminat ke manapun untuk hari ini. Jarak antara rumahku dan sekolah tidak sebegitu jauh, mungkin sekitar 15 menit jika ditempuh dengan jalan kaki. “Kak Yudha!!”
Langkahku terhenti, aku menoleh ke asal sumber suara yang memanggilku, oh Kinal. Adik kelas yang kebetulan 1 ekstrakulikuler denganku, Teater.
“Kinal?” tanyaku heran, wajar jika aku heran. Kinal dan aku tidak pernah mengobrol jika di luar jam ekstra.
“Kak Yudha boleh ngobrol bentar?” tanya gadis berpotongan rambut bob itu.
“Apa Kinal? Mau ngomong soal teater?”
“Bukan, cuma mau nanya gini. Kakak sudah punya pacar?”
Dahiku mengernyit, “kenapa kamu bertanya begitu? Kakak belum punya pacar.”
“Kakak serius?! Kakak mau gak jadi pacar Kinal?”
Dahiku semakin mengernyit, menatap keheranan ke arah Kinal namun dengan cepat aku menetralkan mimikku, “gini loh Kinal, Kakak lagi gak minat pacaran atau gak mau punya pacar dulu. Kakak udah kelas 3, mau fokus ke ujian yang sudah di depan mata. Lagian ya belajar yang bener dulu terus kejar cita-citamu, setelah cita-citamu tercapai dan kamu jadi orang sukses kamu bebas mau pacaran atau langsung menikah. Maaf ya Kinal, Kakak balik dulu. Inget masih kecil gak boleh pacaran.” Ku lanjutkan langkahku yang sempat tertunda, meninggalkan Kinal seorang diri.
Sebenarnya aku juga penasaran dengan hubungan yang dinamakan ‘pacaran’, tapi jika mengingat kata pacaran pasti aku mengingat pesan dari ustad di TPA dulu aku pernah mengaji, ‘pacaran itu tidak ada gunanya, bukannya tambah bener malah tambah ngerusak iman kalian. Jadi ya mending belajar yang bener dulu, soal jodoh pikirin setelah kalian jadi orang sukses. Allah pasti akan ngasih jodoh terbaik bagi hambanya yang melaksanakan perintahnya dengan baik.’ Jadi karena pesan itu aku menahan rasa penasaranku untuk pacaran.
“Assalammualaikum.”
“Waalaikumsalam, baru pulang? Gimana sekolahmu Yudha?”
Ku cium tangan Bunda lalu menunjukkan senyum lebar, “pasti ada ulangan terus kamu gak belajar ya kan?” tanya Bunda dan aku mengangguk.
“Astaga Yudha, makanya kamu itu jangan main volly terus.”
“Udah hobi bun, susah dihilangin lagi. Yudha ke kamar dulu ya.”
Ku langkahkan kakiku menaiki tangga untuk berjalan menuju kamar yang terletak di dekat ruang keluarga, ku buka pintu yang terbuat dari kayu jati itu. Ini kamarku, tidak berbeda dari kamar laki-laki pada umumnya, berantakan dan terkesan kumuh, aku malas bersih-bersih. Bersih-bersih juga kalau dalam keadaan benar-benar darurat.
“Negaraku, Indonesia sudah berumur 70 tahun. Itu berarti sudah 70 tahun lamanya mimpi para pahlawan yang telah gugur di medan perang terwujud.”
Aku memang tidak bisa sejarah, tapi aku tertarik dengan apa itu yang dinamakan Sejarah. Dinding kamarku terpajang foto-foto para pahlawan bangsa seperti Ir. Soekarno, Bung Tomo, Tengku Umar, Jenderal Sudirman. Aku ingin mengingat tokoh-tokoh yang ikut berperang untuk membuat negeri ini merdeka. Di sudut lain ada rak yang berisi buku-buku sejarah atau biografi tokoh-tokoh dunia, meskipun beberapa buku berserakan di lantai karena ku baca sekilas, malas menata lagi ke dalam rak.
Di kamarku juga terpasang bendera merah putih, bendera kebanggaan bangsa Indonesia. Kata Adikku yang masih kelas 2 SMP, kamarku ini lebih cocok menjadi perpustakaan atau museum daripada sebuah kamar. Apa salah jika aku memiliki rasa nasionalisme yang tinggi? Ku dudukkan tubuhku di atas kasur, mencari remote lalu menyalakan tv. Ku tekan tombol remote asal, mencari channel yang bagus dan pilihanku jatuh di acara berita.
“Korupsi lagi? Tidak adakah kasus yang menarik untuk diangkat selain korupsi?” tanyaku sembari menekan tombol off.
Tanganku menggeledah ke dalam tas, kutemukan 1 buku dan 1 pulpen, tanganku menyobek kertas lalu menuliskan sesuatu di kertas itu. Butuh waktu 10 menit untuk menulis dan membaca ulang untuk memastikan bahwa tidak ada kesalahan. Ku ambil sebuah double tipe, memotongnya kecil, menempelkannya ke kertas lalu ku tempelkan ke dinding bersama beberapa tulisanku sebelumnya. Tujuan aku melakukan ini cukup sederhana, aku menuangkan kata-kata yang ku utarakan ke tulisan setelah itu ku tempelkan agar aku selalu ingat. Tidak serta merta menulis lalu dibuang, it’s not me. Menulis membuat hidupmu lebih bewarna teman.
“Yudha, makan siang dulu!!”
“Iya bun.”
Jika Bunda telah memanggil aku tidak bisa menolaknya, tanpa banyak pikir aku berjalan ke luar kamar. Negeri ini telah 70 tahun merdeka, selama 70 tahun pula para rakyat Indonesia merasakan kemerdekaan itu. Mereka berpikir bahwa mereka telah merdeka sepenuhnya, tapi mereka salah. Bangsa ini masih terjajah, tapi bukan pihak luar yang menjajah kita, tapi dari pihak kita sendiri. Jika korupsi di pihak pemerintahan masih ada dan kemiskinan di negara ini belum terhapuskan, maka negara ini belum bisa dikatakan merdeka. Miris memang, tapi itu semua dapat berubah.
Asalkan para penerus bangsa ini memiliki rasa nasionalisme dan tidak mementingkan kesenangan yang hanya sesaat dan sama sekali tidak memiliki manfaat yang baik untuk masa depan. Seperti menyontek atau pacaran, memang 2 hal itu menyenangkan. Namun akan membawa dampak negatif untuk kalian atau untuk negeri ini. Kalian tidak mau itu terjadi? Kalian tidak mau usaha para pahlawan selama ini musnah seketika hanya karena para penerus bangsanya yang tidak memilki rasa nasionalisme atau cinta tanah air?
“Ingatlah kawan, kita adalah para pemuda-pemudi bangsa Indonesia. Kita adalah cahaya sebenarnya Indonesia. Jangan redupkan cahaya ini karena itu sama saja kita meredupkan mimpi para pahlawan yang telah berusaha untuk menyalakan cahaya ini demi bangsa Indonesia yang merdeka.” Syudha Bahroni.

my cange

Langit senja begitu indah, berwarna kemerah-merahan dengan ditemani kicaun burung yang beterbangan di atas sana untuk pulang ke sarang mereka, serta gemericik air sungai yang menyejukkan hati, semua itu membuat senja ini begitu berkesan suara adzan pun berkumandang dengan lantang dan indahnya memanggil para hamba untuk menghadap pada-Nya setelah seharian ini sibuk bekerja, tak terkecuali aku, aku pun terus berjalan menyusuri jalan setapak tersebut.
Untuk berkunjung ke rumah-Nya dan melaksanakan kewajiban sebagai hamba yang taat pada perintah-Nya. Ku percepat jalanku, karena suara iqamah dari Masjid di seberang kali yang mengagetkanku dari lamunan panjangku ya tanpa ku sadari dari tadi aku hanya terdiam dan terpaku karena terpukau melihat lukisan indah dari tangan sang Ilahi. Setelah mengambil air wudu, aku bergegas masuk dan menyesuaikan imam.
“Le, tolong ke sini, simbok mau bicara sama kamu.” panggil simbok dari teras.
“Ya. Ada apa Mbok?” Simbok pun menggeser posisi duduknya, dan menyuruhku duduk di samping beliau.” Sini, duduk di samping simbok.
“Ada apa Mbok, kok sepertinya serius sekali?” Tanyaku penasaran.
“Ini loh, tadi siang kan saat simbok pulang dari pasar tidak sengaja simbok melihat promosi tentang pendaftaran dan ujian untuk masuk sekolah untuk orang seperti kita ini le, Simbok ingin kamu ikut siapa tahu kamu diterima dan dapat sekolah lagi.” Jelas Simbok panjang lebar.
“Oh, begitu ya Mbok tapi apa Ardi dapat diterima ikut ujian seperti itu.”
“Ya, coba saja le, kamu itu kan sebenarnya juga pintar, hanya karena usaha milik Bapak kamu bangkrut, kita jadi melarat seperti sekarang ini, mungkin kalau usaha Bapakmu dulu tidak bangkrut pasti sekarang kamu sudah sarjana le, dan gara-gara itu juga Bapakmu tidak kuat dan terkena serangan jantung dan akhirnya meninggal..” Jelas simbok dengan suara tuanya.
“Sudahlah Mbok, yang dulu tidak usah diungkit-ungkit lagi.”
“Ya, sudahlah tapi kamu mau kan menerima tawaran simbok tadi?”
“O, soal itu ya Mbok, tapi sepertinya aku tidak yakin dengan diriku sendiri”
“Ya sudahlah, kalau kamu maunya begitu, Simbok juga tidak mau memaksa, Simbok juga sudah tua hanya menunggu panggilan-Nya, simbok hanya ingin anak simbok berhasil.” Kata Simbok pasrah
Simbok pun masuk ke dalam, dan meninggalkanku di luar seorang diri, sepertinya simbok kecewa dengan jawabanku tadi. Aku masih duduk termangku sambil menatap rembulan dan taburan bintang di atas sana, sambil merenungi kata-kata simbok tadi. Tapi kenapa aku begitu sulit padahal benar kata simbok tadi, itu adalah kesempatan yang bagus buatku, tapi bagaimana dengan simbok? Kalau aku kuliah nanti simbok harus bekerja dan berjualan seorang diri karena tidak ada yang membantu, aku tidak tega melihatnya.
Wanita setua simbok masih harus bekerja, terkadang aku pun merasa iba dan kasihan saat di pasar sering aku jumpai ibu-ibu yang sudah sangat tua renta masih harus bekerja, untuk berjalan saja susah apalagi bekerja. Kadang aku juga bertanya kepada mereka di mana anak-anak mereka sehingga tega membiarkan orangtua mereka bekerja dan kebanyakan dari mereka menjawab kalau mereka tidak mempunyai anak, aku pun terkejut mendengar jawaban mereka itu. Apa saking bejatnya kelakuan anak-anak mereka itu sehingga orangtua mereka sendiri pun tidak mau mengakui anak mereka sendiri.
Tak ku sadari ternyata hari sudah sangat larut jam pun sudah menunjukkan pukul 11 malam, orang-orang pasti sudah terlelap dan jalan-jalan pun sudah sepi sudah tidak ada kendaraan ataupun orang-orang yang berlalu-lalang. Dan teryata tanpa ku sadari dari tadi Simbok menungguku masuk, dan berdiri di belakang pintu. “Simbok, aku kira simbok sudah tidur?”
“Belum le, simbok dari tadi nenunggu kamu masuk, ya sudahlah le, kalau kamu tidak mau mengikuti ujian itu tidak apa-apa kok. Ya sudah ayo masuk dan tidur kan besok pagi kita harus masih bangun pagi-pagi karena pekerjaan kita masih banyak.” Kata simbok sambil mengandeng tanganku ke masuk ke dalam dan ku lihat wajah simbok pasrah dan terlihat kecewa dengan keputusanku.
Embun pagi masih menetes, kabut tebal pun masih menyelimuti alam yang juga masih tertidur juga, terdengar kokok ayam di mana-mana. Matahari masih malu-malu menampakkan diri seutuhnya. Tapi tidak dengan aku, dan Simbok. Kami berdua harus bangun pagi-pagi sekali di saat semua orang masih asyik dengan mimpi indah mereka. Setiap pagi aku harus selalu memberi pakan ayam, harta satu-satunya selain sepeda tua yang sering aku pakai untuk berjualan di pasar dan sertifikat tanah serta ijazah SMA-ku. Sedangkan Simbok harus bersiap-siap membuat kue-kue tradisional seperti lemper, getuk, klepon dan masih banyak lagi yang akan aku jajakkan nanti siang di pasar.
“Le kamu sudah selesai memberi pakan ayamnya, kalau sudah selesai tolong timbakan air untuk menanak nasi ketan ini” Teriak Simbok dari dapur.
“Iya, sebentar mbok. Ada apa mbok?” Tanyaku lagi.
“kamu sudah selesai belum memberi pakan ayamnya? kalau sudah selesai tolong timbakan air di sumur.”
“Oh, sudah selesai mbok, baiklah Mbok.” Kataku tanpa membantah sedikit pun.
Aku masih sibuk melayani para pembeli yang semakin hari semakin banyak saja. Belum sampai 1 jam jualanku sudah ludes tanpa sisa terjual semua. Aku pun menghitung hasil jualanku hari ini, alhamdulillah terima kasih ya Allah. Setelah membereskan semuanya aku pun pulang di tengah jalan saat aku sedang bersepeda ada poster yang menarik perhatianku ku sempatkan untuk melihat dan membaca poster tersebut.
“daftar sekarang juga. Mau kuliah tapi tidak punya biaya, ikutilah pendaftaran ujian gratis untuk masuk perguruan tinggi favorit kamu yang bertempat di ruang audiotorium universitas gajah mada jam 08:00-15:00 syarat cukup membawa fotokopi ijazah SMA/sederajat. Buruan daftar sekarang juga pendaftaran paling lambat tanggal 3 september.”
Ku baca poster itu berulang-ulang. Kelihatannya menarik. Apa ini ya yang dikatakan Simbok beberapa hari yang lalu. Apa aku ikut saja ya pendaftaran ini, ku tanya hati kecilku.
“Ada apa anak muda, kamu berminat dengan pendaftaran yang ada di poster itu ya?” Tiba-tiba ada bapak-bapak berseragam rapi membawa tas besar berdiri di belakangku.
“Eh… Bapak siapa ya?” tanyaku keheranan.
“Saya Pak Widodo saya dosen di universitas gajah mada dan sayalah yang membuat poster yang kau baca itu. Sepertinya kamu berminat dengan tawaran yang ada di poster itu, kalau kamu berminat saya bisa membantu untuk mengurus semuanya asal kamu bawa persyaratannya dan kita bisa bertemu di tempat ini lagi besok di jam yang sama.”
“Oh, ya sebelumnya siapa namamu?”
“Saya Ardi…” jawabku singkat.
“Nak Ardi ini kesempatan yang bagus buat mu jangan sia-siakan,” Nasihat bapak tadi sebelum pergi meninggalkanku.
Sesampainya di rumah seperti biasa-biasa setelah pulang dari pasar aku harus masih membantu Simbok di sawah.
“Mbok, Ardi pergi dulu ya Mbok, Assalamualaukum,” Pamitku.
“Waalaikumsalam. Mau ke mana kamu itu to le,”
“Ardi mau ketemu temen Mbok” Aku terpaksa berbohong karena ingin memberi kejutan pada Simbok.
“Ya… sudah hati-hati ya le,”
“Eh… rupanya kamu berminat ya menerima tawaran saya kemarin?” Tanya Bapak yang aku temui kemarin siang.
“Iya, pak saya berminat… saya ingin membuat Ibu saya bangga dengan saya dan saya ingin merubah hudup saya menjadi lebih baik” Kataku panjang lebar.
“Wah… rupanya kau itu anak yang berbakti kepada orangtua, kalau soal itu saya bisa urus semua itu, pokoknya kamu tenang saja, kamu bawa persyaratannya kan?” Tanya bapak itu lagi.
“Bawa… ini pak. Oh, ya pak kapan saya bisa ikut ujiannya?”
“Secepatnya, kalau bisa hari ini kita bisa hari ini, kamu tidak jualan kan hari ini?”
“Kebetulan hari ini saya tidak berjualan”
Setelah mendaftar pada panitia aku langsung masuk ke ruangan untuk mengikuti ujian. Soal demi soal sudah aku kerjakan ada soal yang mudah tapu juga ada soal yang sulit dan sekarang tibalah di saat penentuan siapa saja yang terpilih untuk dapat kuliah nanti. Dan di antara nama-nama tersebut tersebutlah namaku. “Ardiansyah Nur Wachid” Aku terpilih, wow aku tak percaya, setelah itu aku pun pulang dengan wajah yang sangat bahagia, tapi begitu sampai di rumah aku terkejut kenapa di rumahku banyak sekali orang dan kenapa ada bendera kuning, apa jangan-jangan oh, tidak Simbok.
Simbok aku langsung meninggalkan sepedaku begitu saja, “Nak Ardi kuatkan hatimu ya Nak,” kata salah seorang tetanggaku.
Tak kuhiraukan omongan ibu tadi dan begitu aku masuk aku melihat tubuh seorang wanita tua yang sudah terbujur kaku tak bernyawa, “Simbok” ya wanita itu adalah Simbok. Simbok telah meninggalkanku. Kenapa, kenapa Tuhan secepat ini kau memanggil Simbok? Simbok belum sempat melihat surat yang aku berikan. Aku terus menangis dan menangis. Kini aku berada di atas pembaringan terakhir Simbok, “Simbok maafkan aku. Ya Allah tempatkanlah Simbok di antara kekasih-kekasih-Mu dan di antara orang orang mukmin lainnya,”
Hari ini adalah hari pertama aku masuk kuliah, walaupun kesedihanku tentang kepergian Simbok belum juga reda. Aku harus tetap semangat dan tidak boleh berlarut sedih terlalu lama.
Setelah sehari, 2 hari, 3 hari, 1minggu, 2 Minggu, 1 bulan, 2 bulan, 1 tahun, 2 tahun. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat dan hari ini adalah wisuda S2-ku. Dengan bangga aku menuju ke depan dan menerima penghargaan sebagai mahasiswa dengan nilai ipk terbaik yaitu 38,25. Sudah lama aku tidak pergi ke kampung untuk ziarah ke makam simbok.
“Simbok, lihatlah. Mbok aku bisa mewujudkan impian Simbok aku sekarang sudah berhasil sekarang, mbok, dan aku berencana meneruskan S3 di jerman mbok.”
24 Agustus 1988, akhirnya aku bisa mewujudkan impianku dan inilah aku yang sekarang dengan rentetan title yang begitu panjang Prof. Ir. Dr. Ardiansyah Nur Wachid aku yang dulunya hanyalah seorang pemuda kampung yang pekerjaannya hanya menjual getuk di pasar kini adalah salah seorang dosen terkenal di salah satu perguruan tinggi di jerman.

mimpi meraih prestasi

Seperti biasa emak Limbok selalu membuka daun jendela kamar Limbok setiap pukul 05.30 pagi. Jendela kamar sudah terbuka sejam lalu, namun Limbok masih saja mengeluarkan dengkuran. Kedua kakinya yang besar, padat mengapit guling. Seandainya guling itu makhluk hidup, pastilah sudah lama mati lemas karena dijepit paha Limbok.
“Mbok… bangun,” seru Emaknya dari dapur.
Tubuh Limbok tak bergeming. “MBOKK…” seru Emaknya yang kedua kali. Kali ini lebih melengking.
Tubuh Limbok mulai bergerak. Kalau tadi tubuhnya miring ke kanan dan kedua kakinya mengapit guling kali ini berubah. Ia menggeliat sejenak. Kemudian tubuhnya beralih miring ke kiri. Matanya tetap saja terpejam. Kedua kakinya kembali mengapit gulingnya. Tiba-tiba ada rasa dingin dan benda cair mengalir di pipi kanannya. Srtt… Tangan kanannya secara refleks mengusap pipinya. Serta merta ia membuka matanya.
“Air…??” katanya serak. Sambil melap pipinya.
Kedua matanya yang masih terkantuk-kantuk itu melihat sosok manusia di depannya. “Molor lagi… BANGUN!!” seru emaknya, “jika kamu enggak bangun, Emak akan siram air ke wajahmu.”
“Ini kan libur Mak,” Limbok membela diri. “Libur itu bukan lantas bermalas-malasan.”
“Limbok enggak bermalas-malasan Mak, Limbok sedang melakukan perintah Pak guru,”
“Hahh.. perintah Pak guru apa itu?” ujar emaknya ingin tahu.
“Mimpi yang banyak meraih prestasi.” jawab Limbok sambil kaki kanannya memainkan gulingnya.
“Apa itu?”
“Begini Mak, dalam libur ini kita diminta Pak guru untuk mimpi meraih prestasi sebanyak-banyaknya.”
“Mimpi meraih prestasi, apaan tuh?”
“Ya… seperti mimpi menjadi juara kelas, mimpi menjadi sarjana atau mimpi menjadi pengusaha sukses dan masih banyak lagi.”
Emaknya mencoba menahan diri. “Lalu Mbok… apa gurumu mengajarmu tiap hari tidur, molor sampai tengah hari untuk dapat menjadi sarjana?”
“Enggak sih Mak,” jawab Limbok kalem.
“Mimpi itu harus diwujudkan dengan…”
“Dengan apa, ayo…” potong emaknya.
“sepertinya dengan bee…llla…jarr, rajinnn, dan..” Limbok mulai gemetaran.
“Lalu kenapa kamu bangunnya molor melulu,” tanya emaknya yang majahnya mulai tanpak kesal.
“Abis Mak, Limbok harus tidur supaya banyak bermimpi.”
“Mimpi itu artinya cita-cita Mbok… Itu berarti kita harus belajar yang rajin, bukan tiap hari tidur tiap hari kerjanya tidur seperti kamu ini…” sergah emaknya sambil tangan kanan menjewer telinga Limbok. “Iya.. iya Mak.. aku akan mandi…” seru Limbok.
Kali ini Limbok terpaksa bangun atau telinganya akan molor kayak telinga gajah. Sejak saat itu Limbok belajar bahwa mimpi menjadi orang berprestasi itu harus diraup dengan tekun belajar dan disiplin bukan banyak tidur supaya banyak bermimpi.
The End

apakah si miskin berhak

Namaku Ahmad, aku seorang Yatim piatu. Orangtuaku meninggal dunia karena kecelakaan, dan sekarang aku hanya hidup sebatang kara di tempat yang mungkin tak asing lagi bagi kalian. Yaa.. aku hidup di bawah kolong jembatan. Ini adalah kisah hidupku yang penuh perjuangan. Pagi itu aku bangun tepat jam 05.00 dan seperti biasa aku tak pernah bangun terlambat. Dengan keadaanku yang serba kekurangan seperti ini tidak menjadikan alasan bagiku untuk melupakan kewajibanku sebagai seorang muslim.
Aku selalu menyempatkan diri untuk sekedar menenangkan hati dan pikiran dengan salat lima waktu. Dan aku selalu menjadikan waktu sebagai motivasiku. Pukul 06.00 aku selalu siap untuk berkeliling menyusuri dinginnya lorong dan jalan raya untuk menjajakkan keripik singkong yang aku buat sendiri. Setiap pagi aku tak pernah absen untuk mengunjungi rumah, toko atau tempat yang biasanya dengan setia membeli keripik singkong buatanku.
Bahkan hingga siang berkeliling menjajakkan keripik, aku tidak peduli dengan teriknya matahari yang menusuk ubun-ubun. Aku tidak pernah menyerah. Aku terus berjalan hanya demi mendapatkan sesuap nasi saja. Entah kenapa ketika aku dipertemukan dengan kesulitan hidup, aku tidak pernah mengeluh dan selalu tersenyum manis, seolah-olah tidak ada beban pada diriku ini. Aku hanya tidak ingin orang lain mengetahui sisi kelamku. Biarlah mereka mengetahui sisi baikku saja.
Suatu hari seperti biasanya, aku menyusuri jalan raya dan lorong-lorong dengan penuh harapan dan semangat yang menggebu-gebu. Dan tibalah aku pada tempat yang mungkin tak asing lagi bagi kalian, dan mungkin tempat itu juga hampir kalian kunjungi setiap harinya. Ya.. itu adalah sebuah Sekolah, tepatnya SMA BUDI LUHUR. Salah satu sekolah elit dan bermutu di kotaku. Aku selalu berdiri di depan pagar sekolah untuk menunggu jam istirahat mereka. Waktu terus berjalan, dan alhamdulillah keripikku terjual habis.
Tanpa disadari hampir setiap hari aku selalu mengunjungi sekolah itu. Dan entah kenapa ketika aku melihat anak-anak sebaya denganku yang dapat dengan mudahnya menikmati pendidikan tanpa beban. Aku selalu iri dengan mereka. Bukankah aku dan mereka adalah sama-sama anak negeri ini? Memiliki keinginan, potensi dan Hak yang sama? Akan tetapi kenapa hanya mereka saja yang mendapatkannya. Apakah Si anak Yatim Piatu yang miskin ini tidak berhak mendapatkannya? Bukankah aku juga anak bangsa yang memiliki hak yang sama seperti mereka?
Dan ketika aku berdiri di depan pagar sekolah, melihat mereka dengan seragam putih abu-abunya. Aku menatap mereka dengan penuh mimpi dan berdoa dalam hati. “Ya Allah… Apakah hanya mereka si kaya saja yang memiliki hak memperoleh pendidikan, dan apakah aku si miskin tidak memiliki hak seperti mereka, bukankah aku juga anak bangsa. Bisakah aku seperti mereka ya Allah?” Ya itulah doaku dalam hati.

meja dan kursi

Aku melihat tempat belajar anak-anak usia dini di Kampung Cileuksa Desa Bandung sangatlah prihatin. Anak-anak belajar di kantor balai desa secara lesehan. Tidak mempunyai meja dan kursi. Mereka melaksanakan kegiatan belajar mengajar senin sampai jumat. Tenaga pengajarnya diperkirakan sudah cukup umur, sekitar 59 tahun. Bu Eni namanya. Meskipun begitu, Bu Eni masih tetap sehat dan kuat untuk melaksanakan tugasnya demi mencerdaskan anak bangsa.
Bu Eni sering mengeluh kepadaku, lantaran anak-anak belajar kesulitan tidak memiliki meja dan kursi. Aku selaku penggerak kegiatan belajar mengajar di sini tidak bisa berbuat apa-apa. Karena aku sendiri memang tidak memiliki kekayaan yang cukup untuk menyumbang kegiatan belajar mereka. “Saya butuh meja dan kursi Pak,” begitu ungkapan hati Bu Eni yang selalu terngiang di telingaku.
Bu Eni satu-satunya kader Posyandu di Desa Bandung, yang cukup aktif dan cekatan dalam menjalankan tugas di lembaga yang diberikan nama RA Ad-Dzikro Bandung ini. Sebelumnya dia kader yang dipercaya juga di dalam mengurus administrasi Desa Bandung. Ya, itu tadi, beliau sangat rapi kalau bekerja membuat laporan. Makanya, tenaga selalu dipake oleh Wahyu, keponakannya yang juga selaku carik untuk mendampingi ayahnya Wahyu menjadi Kepala Desa Bandung.
“Nanti kalau dapat bantuan Bu.” Hanya itu yang bisa aku sampaikan ke Bu Eni untuk menenangkan perasaannya yang sangat membutuhkan meja dan kursi untuk anak-anak.
Sejak itu, aku selalu teringat kata-kata Bu Eni soal meja dan kursi yang dibutuhkannya. Aku berpikir, kalau usahaku dalam percetakan media ini ada keuntungannya akan aku sisihkan untuk membeli meja dan kursi. Tapi, sayangnya usahaku belum beranjak pasti keberuntungannya. Seringkali uang tagihan di beberapa instansi mandeg karena tidak bisa dicairkan secepatnya. Itu pun kalau dibayarkan cukup dicicil saja. Ini yang menjadi masalahnya bagi aku tidak dapat memenuhi harapan Bu Eni untuk membeli meja dan kursi.
Suatu ketika, hal itu aku sampaikan juga dengan Wahyu, tidak lain selaku Kepala Sekolahnya di situ. Bahwa aku katakan mereka anak-anak asuhnya membutuhkan tempat untuk belajar yang nyaman. “Kita harus membenahi pendidikan anak usia dini ini. Tempatnya dan sarana belajarnya. Kita juga butuh meja dan kursi untuk kebutuhan proses belajar mereka,” Permintaanku yang disampaikan kepada Wahyu -yang juga selaku Sekretaris Desa di Desa Bandung itu- benar benar tengah memikirkan hal yang sama denganku. Yaitu tengah dipikirkan meja dan kursi tahun ini harus ada. Katanya.
Harapannya, tentu saja mencari donatur atau menunggu bantuan dari pemerintah. Sejak tahun 2008 sampai sekarang anak anak belajar tidak memiliki meja dan kursi, maka tahun ini diharapkan dapat terpenuhi sarana belajarnya. Mumpung, Wahyu mempunyai pemikiran yang sama, aku mencoba mencari jalan keluarnya untuk mencari donatur tapi ternyata tidak sepenuhnya para donatur mampu memberikan lebih. Karena hanya sekedar saja. Itu pun tidak dapat membeli meja dan kursi sejumlah anak 20 orang. “saya bantu untuk membeli meja saja ya,” ujar salah seorang yang ikut peduli terhadap kegiatan kami.
Rupanya janji donatur itu tak kunjung tiba juga. Mereka hanya membual saja karena gengsi kalau menolak tawaranku menjadi bapak asuh mereka. Waktu itu aku berusaha menghubungi bapak dewan -khusus daerah pemilihan di daerah tersebut. Sampai sekarang, janji itu hanya sebuah nyanyian belaka di beberapa tempat di mana mereka melakukan kunjungan ke daerah pemilihannya. Nama kami hanya dijual-jual oleh mereka terkait kebutuhan sarana pendidikan yang kurang memadai. Hasilnya nol. Mereka omdo. Omong doang gede.
Ya aku tidak percaya sepenuhnya. Tapi aku merasa berdosa kalau tidak berbuat sesuatu untuk mereka. Anak anak bangsa yang membutuhkan sarana belajar. Demi pendidikan mencerdaskan mereka. Sangat membutuhkan sarana belajar. Aku sekali lagi terngiang terus permintaan Bu Eni. “Kami minta meja dan kursi Pak.”
Langkahku yang pertama, adalah mencari tempat pembuatan meja dan kursi di Panglong. Beberapa tempat panglong sudah aku hubungi untuk kesesuaian harga dan mengajak mereka untuk berpartisipasi membantu kebutuhan anak belajar. Ternyata mereka hitungan bisnis bukan hitungan berbuat amal jariyah. Sangat jarang aku temui orang-orang yang mau menginvestasikan jiwa raganya untuk membantu orang-orang yang tidak mampu. Seringkali aku harus menerima perasaan tidak enak kalau sudah menyampaikan hal-hal yang baik buat mereka. Minimal mereka memberikan harga termurah dari yang lainnya.
Suatu hari aku ditelepon oleh Wahyu, Kepala sekolah Ad Dzikro Bandung ini untuk memesan meja dan kursi untuk anak-anak. Rasanya mendengar kabar itu aku teramat senang. Ternyata usaha aku yang sering gagal melobi berpengaruh juga terhadap Wahyu yang juga aparat desa setempat.
“Saya merasa malu, anak-anak belajarnya masih lesehan d balai desa kami. Apalagi kekurangan sarana belajar kami menjadi bahan laporan dewan yang melakukan reses ke desa,”
Itu ungkapan Wahyu kepadaku. Tentu saja niat baik mewujudkan meja dan kursi tentu aku sangat membahagiakan. Akan tetapi laporan dewan tersebut yang membuatku tidak enak rasanya. Kok, mereka -dewan- tidak bisa berbuat apa-apa. Berbeda ketika belum jadi dewan -sering suara kami menjadi perhitungan untuk kemenangannya. Ini hal yang sangat pelik jika diperhitungkan.
“Sudahlah jangan dipercaya omongan dewan itu. Sulit pembuktiannya. Terpenting, nanti saya minta tolong sama Bapak, untuk memesan meja dan kursi di panglong yang sudah Bapak survei itu,” ujar Wahyu memberi keleluasan mencari panglong yang dapat memenuhi kebutuhan meja dan kursi anak dengan biaya minim.
“Ya. Ada yang sudah saya temui Pak. Harganya seratus lima puluh ribu rupiah di Cipacing. Harga itu satu unit meja dan dua kursi. Murah kan?” Kataku meyakinkan Wahyu. Yang disambut oke oleh Wahyu.
Sore itu aku langsung menuju rumah Wahyu di Batulingga untuk mengambil uang meja dan kursi tadi. Wahyu memesan 10 meja, 20 kursi dan dua meja guru. Uang dua juta lima ratus rupiah aku peroleh dari Wahyu. Bahkan, sore itu juga aku ke panglong Pak Iman di Cipacing. Sesuai yang aku sampaikan harganya kepada Wahyu, sama persis uang yang diminta Pak Iman pemilik panglong. Dua juta lima ratus ribu rupiah. Ya. Sebesar itu.
“Kok segitu Pak,” kata pemilik panglong. Maksudnya, tidak dilebihkan harganya. Kalau ada lebihnya dia akan memberikan komisi kepadaku.
“Tidak Pak, sesuai apa yang ditentukan harga dari Bapak,” kataku kepada pemilik panglong tersebut.
“Wah tidak ada lebihnya. Nanti lain kali kalau ada orderan tolong ada lebihnya buat Bapak,” katanya lagi.
Tapi rasanya buat aku hal itu belum terpikirkan sama sekali. Karena aku berharap Wahyu dengan harga murah dapat memenuhi kebutuhan sarana belajar anak-anak. Aku hanya berpikir bagaimana dengan harga murah bisa terwujud. Sudah itu saja tidak memikirkan kelebihannya atau keuntungannya.
“Saya tidak mencari untung Pak”
“Oh, ya sudah. Nih..” si pemilik panglong itu malah memberikan uang seratus ribu rupiah. Menjelang maghrib aku terima uang itu, tidak langsung aku terima. Uang itu justru aku berikan sama Pak ustadz H Arip. Karena dia berjasa membawaku ke panglong. Aku memang tidak memiliki akses transportasi untuk mendatangi panglong tersebut. Makanya aku memanfaatkan kendaraan roda dua milik pak Haji Arif.
Aku pikir, dari transaksi pembuatan meja dan kursi sudah sepakat waktunya sampai 6 Desember selesai. Berarti lima belas hari lamanya dari pemesanan pertengahan Nopember lalu. Hal itu juga sudah aku sampaikan kepada Wahyu bahwa tanggal 6 Desember selesainya. “Sekarang sudah Tahun baru lagi. Kok, meja dan kursi belum juga jadi sih,” kata Wahyu. Tiba-tiba suara telepon dari Wahyu menghentakkanku untuk mengingatkan batas waktu pemesanan meja dan kursi tangal 6 Desember sudah selesai.
Aku mencoba menghubungi panglong. “Pak, bagaimana pesanan meja dan kursi, sudah rampung belum?”
“Tinggal kursi yang sudah, meja belum dikasih daunnya,” ujar Iman si pemilik panglong tersebut.
“Kapan selesainya?” Kataku via handphone selular.
“Ya minggu-minggu ini,”
“Jangan lama-lama Pak. Saya sudah dihubungi lagi sama yang punya. Tolong Bapak selesaikan secepatnya.” ujarku, kesel. “Iya Pak. Iya Pak!” sahut si pemilik panglong lagi.
Seminggu yang dijanjikan selesai, waktunya sudah berlalu, tapi pengerjaannya terlambat lagi. aku penasaran menghubungi langsung ke panglongnya di Cipacing. Ternyata kursi dan meja belum diapa-apakan. Belum ada tanda-tanda pengerjaan yang cepat diselssaikan, malah mengerjakan yang lain. Alasannya nggak ada yang mengerjakannya.
“Pak, aku bayar lunas maksudnya supaya tidak seperti begini. Lambat! ” suara aku meninggi.
Si pemilik panglong terus saja mengangguk-angguk tanda menerima kesalahannya. Tapi aku sudah tidak sabar dengan perlakuannya yang menjengkel kan perasaan.
“Saya tidak enak hati sama yang pesannya. Nanyain terus. Nanti ada prasangka yang bukan-bukan ke saya. Bagaimana ini, bisa dikerjakan enggak?” aku marah. Kesal di depannya yang tampak malah ngotak-ngatik hp bukannya bekerja malah orang lain yang bekerja. Itu pun bukan kerjaan yang aku pesan.
Aku berpikir negatif. Kalau sampai aku terjadi apa-apa sama Pak Wahyu, karena kecewa atas sikapku, maka yang aku tekan si pemilik panglong ini. Aku akan bakar panglongnya dan tidak bisa kenal kompromi lagi. Marahku sudah memuncak ketika aku berkali-kali datang ke panglong ternyata belum juga dikerjakan. Apa salahku, uang sudah lunas aku berikan. Apalagi yang kurang. Sungguh tidak profesional. Aku tunggu saja janjinya minggu ini selesai. Bukan apa-apa. Pesanan ini justru menggunakan uang Negara dari bantuan kepada lembaga sejumlah siswa berupa bantuan operasional sekolah. Waktunya harus selesai bulan ini juga.

misteri nilai A

Hujan deras yang tak kunjung reda saat itu membuat Evendi sedikit terlambat berangkat ke kampus, setelah semua jalan mulai mengering, dengan motor jupiter mx ia berangkat ke kampus tercintanya. Waktu itu sedang jadwal mata kuliah Matematika. Evendi tidak sadar bahwa dosennya telah berang setengah mati menunggu mahasiswanya banyak yang belum hadir. Tik-tok tik-tok suara sepatu sepatu menyentuh lantai, dengan nada pelan.
“Assalamualaikum, Bu,” Evendi memberi salam dengan hati deg-degan.
“Waalaikumsalam, kenapa kamu terlambat?” Tanya dosen matematika itu dengan geram.
“Maaf Bu tadi terjebak hujan,” sahut Evendi seraya melihat ke arah lantai.
“Oh ya sudah kamu pulang saja, ini sudah terlambat tidak bisa masuk lagi, kamu jangan seenaknya saja ya?” Tegas dosennya dengan nada tinggi.
“Kok Ibu gitu sih, Ibu kan bisa lihat keadaan saya yang sudah basah kuyup seperti ini, kenapa harus menyuruh saya pulang?” Tambah Evendi dengan nada loyo dan sedikit takut.
“Alam sedang tidak mendukung, tadinya di daerah saya hujan, mana mungkin saya datang tepat waktu,” tandas Evendi.
Dosen matematika yang juga bernama Lasmini itu tidak lagi menjawab, ia langsung memasang wajah muram, apalagi saat itu hanya ada tiga mahasiswa yang hadir. Evendi dengan wajah pucat dan penuh keringat bercampur air hujan tetap masuk mengikuti mata kuliah itu, Ibu Lasmini tetap memberi alpa di absen, wajah pucat dan lutut gemetar nampak dari tubuh Evendi, ia mulai tidak tenang saat duduk di kursi, matanya sesekali melihat ke luar jendela ruangan, entah apa yang dilihatnya.
Tiga bulan berlalu, dia dan kawan-kawan mengikuti ujian tertulis, kertas jawaban Evendi terisi dengan penuh, tidak ada halaman yang tersisa dari dua lembar kertas jawaban yang diberikan. Evendi mulai melangkah ke luar dari ruangan, wajahnya terlihat sangat ceria karena bisa menyelesaikan semua soal tanpa lagi mengingat insiden perdebatannya dulu. Selang satu minggu, akhirnya hasil ujian sudah bisa dinikmati.
Evendi sudah tidak sabar untuk melihatnya, wajahnya kaget dan matanya terbelalak saat melihat nilai ujian yang didapatinya adalah ‘D’ sudut ruangan yang kumuh dan tak terawat di samping jurusannya menjadi tempat renungan bagi Evendi. Paras putihnya penuh dengan linangan air mata, ia hanya tertunduk lesu diam seribu bahasa. Tidak ada kata-kata yang ke luar dari mulutnya, hatinya hancur berkeping-keping saat melihat mading yang berisikan nilai hasil usaha satu semesternya.
Kondisi fisiknya pucat, sedikit rasa penyesalan datang, kenapa ia memilih jurusan FKIP Ekonomi di Universitas Serambi Mekkah itu. Satu jam ia habiskan waktu untuk meratapi nasibnya, kemudian Evendi menghidupkan motornya dan kembali pulang ke rumah. Dia larut dalam keadaan, Evendi mencoba untuk melupakan semua apa yang baru saja terjadi. Tidak pernah patah arang, semangat untuk mencoba lagi selalu tumbuh dalam dirinya.
Semester selanjutnya ia kembali mendaftar mata pelajaran Ibu Lasmini itu, semester baru berjalan lancar, dia mulai bertegur sapa lagi dengan dosennya itu. Suasana sudah kondusif, saat ujian tiba, pulpen Evendi menari bebas di atas lembar jawaban yang diberikan, semua diisi penuh oleh Evendi tanpa tersisa sedikit pun. Besok Senin tanggal 15 Oktober 2014 nilai akan ditempelkan di mading (majalah dinding) jurusan.
Perasaan senang mengalahkan rasa dingin yang menusuk sampai ke dalam tulang, jam enam subuh Evendi bangun, merapikan tempat tidur sebentar, dan langsung menyalakan motornya. Sebelum matahari ke luar dari peraduannya dia bergegas menuju kampus, walaupun agak jauh dari tempat kediamannya. Dia begitu semangat untuk melihat hasil kerja kerasnya. Evendi sudah tiba di tempat tujuan.
Hatinya yang penuh tanda tanya dalam sekejap berubah, tidak ada senyum terlihat dari bibirnya, dalam sekejap wajahnya menjadi pucat pasi. Matanya melotot saat melihat namanya menerima nilai ‘D’ lagi. Tidak ingin berlama-lama, dia langsung menyalakan motornya untuk kembali pulang. Kasur yang empuk menjadi tempat ia mengadu, “kenapa nasibku seperti ini, akankah ada keberuntungan menghampiriku?” Keluh Evendi dengan matanya sedikit berkaca-kaca.
Tahun depan ia kembali mencoba untuk yang terakhir kali, siapa tahu nasib baik ada bersamanya. Masuk kuliah Evendi datang tepat waktu, patuh, taat, dan semua perintah dosen iya kerjakan, hampir tidak ada hari ia datang lebih cepat dari kawan-kawannya yang lain. Ternyata setelah selesai mengikuti mata kuliah itu lagi, nasib mujur masih belum bersahabat dengannya, dia kembali menerima nilai seperti pertama mengikuti pelajaran itu.
Tiga hari mengurung diri di rumah, Evendi seperti orang kehilangan istri, seakan ia tidak sanggup menerima kenyataan pahit itu. Segala cara telah dilakukan, namun semuanya tidak ada arti, tiga jeriken bensin iya habiskan hanya untuk mencari nilai ‘A,’ tapi entah mengapa dosennya itu tidak pernah mengerti.
Tiga malam Evendi tidur tidak nyenyak makan tak enak, ia harus memutar otak tujuh kali lipat untuk mencari solusi agar ia bisa mendapatkan nilai bagus. Ia sudah mulai senyum-senyum sendiri. Pagi buta itu Evendi menghidupkan tunggangannya, ia memacu kuda besinya 120 Kmj demi berangkat ke rumah dosen yang telah memberikan tiga kali nilai jelek kepadanya itu. Evendi sudah sampai di depan pintu rumah dosennya.
“Tok-tok-tok,” bunyi suara ketukan pintu.
“Iya, siapa di luar?” Tanya Ibu Lasmini.
“Oeh…. kamu Evendi, ngapain kamu ke sini, siapa suruh pagi-pagi ke rumah saya?” Lanjut dosennya itu.
“Aku heran Bu, kenapa Ibu terus menyiksa saya, tiga kali saya ikut mata kuliah Ibu, tapi kenapa Ibu memberikan nilai itu terus kepadaku, apa salahku? Tolong aku Bu, nilai yang Ibu berikan tidak cukup membuat hati ini bahagia,” mohon Evendi sedih.
“Sudah-sudah, aku tidak suka melihat orang seperti kamu, minta saja nilai A di rumahmu nanti, saya lagi sibuk jangan kamu ganggu.” Jawab dosen Matematika itu tegas.
“Ya sudah bu kalau begitu, boleh saya pinjam parangnya sebentar?” pinta Evendi.
“Mau kamu bawa ke mana parang saya?” Gumam dosen itu.
Evendi hanya membisu, melihat ada pohon kelapa janda merana di halaman rumah Ibu Lasmini, mahasiswa itu langsung memanjatnya, dahan-dahan kelapa yang sudah kering ia tebas semua. Kelapa muda dan tua dipetik semua, pohon kelapa itu yang dulu tidak terawat, sekarang tidak lagi berantakan, semua buah kelapa selesai dikupasnya.
“Segala cara telah aku lakukan, tapi Ibu masih saja tidak berbaik hati, hanya ini yang terakhir bisa saya lakukan Bu,” mohon Evendi dengan jantung berdebar kencang. Melihat kenyataan yang baru dilakukan anak muridnya, dosen Serambi Mekkah itu seperti terkunci mulutnya, hanya senyum lebar yang menghiasi paras cantik itu.
“Aduh kamu Evendi, kamu sudah Ibu izinkan pulang, oya ini ada sedikit jajan dari saya untukmu Nak, tolong gunakan untuk mengisi bensinmu.”

mainan dari bapak

Dalam pekat gelap dan gemerlap cahaya rembulan yang membaur di malam itu. Di masa ketika tubuhku yang mungil masih muat berendam dalam sebuah ember. Sembari mencoba memejamkan mata, tetap jelas terlihat cahaya kerlip bintang disapu cahaya rembulan yang cukup menjadi penerang. Purnama hampir mengalahkan lampu bohlam 5 watt kekuningan di ruang tamu. Jarak antaranya dengan kamarku hanya dibatasi sehelai sekat kain batik truntum.
Konon kain truntum itu peninggalan almarhum kakek, yang dibeli ketika pernikahan bapak dan emak dulu. Memang terawat cukup lama, namun waktu membuatnya sedikit terkoyak. Ada bagian yang menerobos atap rumah, sehingga aku bisa memandangi pemandangan indah. Kadang cipratan air hujan menghiasi lubang itu. Ember-ember yang berada di kamar mandi, tempat biasa aku membersihkan diri, migrasi ke kamarku. Bapak tak banyak bicara, dia membiarkan lubang itu menganga di sana, berdalih bahwa dunia ini sangat sempit.
“Lihatlah dari sebuah celah, lihatlah lebih jeli! Kau akan melihat luasnya semesta ini. Tunjuk satu bintang itu dan terbanglah ke sana!” Bualan bapakku ketika aku merengek kedingininan meratapi bocornya atap. Bapakku pelit, baju baru di hari raya kadang hanya sebuah mimpi bagiku, sepeser pun uang jajan tak pernah dia berikan untukku, jangankan memberiku mainan, sekedar beberapa genting baru untuk atap rumah pun dia tak bergeming.
Aku masih tak mengerti bapak yang pendiam, sekian menit ini menjadi sosok yang tak berhenti berkata. Aku hanya mendengarkannya sebagai angin lalu. Hembusan napas bapakku ketika berbicara meluncurkan semerbak baunya. Sesekali aku menutup hidung, telinga aku biarkan terbuka karena sudah kebal dari bentakan suara, masuk telinga kanan ke luar telinga kiri.
“Bapak, aku lapar!”
Aku sudah bosan dengan lauk yang hanya sejumput garam itu, monoton tak ada perubahan rasa. Ketika Mak Ijah masuk jamban umum kampung, aku mengambil beberapa gorengannya yang diletakkan sementara di pos ronda. Mak Ijah yang kurus keriput berdagang keliling kampung, di atas kepalanya menenteng satu tampah besar yang terbuat dari anyaman bambu. Orang sini menyebut tampah itu “nyiru”. Diatas nyiru itu terserak rupa-rupa gorengan tertutup daun pisang lusuh yang sudah dipanaskan di atas “hawu”, kompor yang dibentuk dari tanah liat berbahan bakar kayu dan reranting kering.
Bapak mengrenyitkan dahi dan mengayunkan beberapa buah lidi, yang dia cabut dari sapu pekarangan. “Plak, Plak, Plak!” Tanganku memerah dan lebam, perih menjalar di kulit dengan cepat. Gerak refleksku menciutkan posisi lengan yang kesakitan, menempelkannya erat ke dada, menutupi wajah dengan isak tangis air mata yang ke luar. Seketika aku berlari ke belakang rumah, menembus kebun singkong milik pak RT yang di tengahnya terdapat pohon pala. Di situlah tempat persembunyianku, tempat merenung sembari bergelayut di sepertiga ujung puncaknya. Aku memanjat di sana, sesenggukan. Aku benci Bapak! Bapak pelit! Bapak jahat!
Semilir angin sepoi mengeringkan air mata, aku terlelap di dahan pohon pala. Beberapa jam dalam buaian, hujan rintik kini membangunkan. Aku perlahan menuruni licinnya batang dan reranting pohon pala, hampir terjatuh. Lalu berlari menembus cipratan air yang menetesi dedaunan. Di depan rumah, bapak berkacak pinggang dengan sorotan mata menyala. Aku tertunduk masuk perlahan ke dalam rumah, takut. Sorot matanya lebih menakutkan dari kilatan halilintar.
Di pagi hari ini ternyata bapak masih terlelap, di bagian belakang bajunya yang lusuh masih tampak sedikit cipratan lumpur. Di dapur tampak kepulan asap, terlihat emak sedang memasak, harumnya tercium nikmat. “Belut dari pasar yak Mak?” Emak hanya tersenyum, menggelengkan kepala.
“Belut ini hasil tangkapan Bapak semalam, khusus untukmu.”
Belut memang hidup alami di sekitar pesawahan, hanya beberapa meter dari rumah, namun kini sudah sedikit langka di kampung kami, penduduk terlalu ramai mengeksploitasinya. Dengan belut goreng, menu kali ini cukup mewah karena biasanya bapak hanya memberi makan kami nasi dan garam bersama beberapa lalap yang diambil dari pucuk daun singkong, kacang-kacangan, katuk, dan bayam yang tumbuh di sisi kanan rumah.
Di petakan tanah 2×4 meter itulah bapak menanamnya. Terkadang dari situ ada menu tambahan buah labu siam, sulurnya ikut merambat ke dinding rumah yang terbuat dari bilik anyaman bambu. Tak lama, hidangan emak sudah matang. Emak membawakan nasi dan lauk pauk itu dari dapur, menyusunnya dengan rapi di atas teras bambu depan rumah. Emak menyuruhku membangunkan bapak, tapi ternyata bapak sudah terbangun. Dia sedang mengganti bajunya dengan yang lebih baru. Baju itu masih tampak lusuh, tetapi tampil lebih bersih dan wangi dari yang sebelumnya.
Kami duduk di sekeliling hidangan, bapak mengangkat ke dua tangannya bersyukur mendoakan makanan yang tampak di hadapan kami, emak mengamini. “Selamat ulang tahun Riza, semoga menjadi anak yang saleh…” Emak mencium keningku namun bapak hanya menyantap hidangannya dengan khusyuk tanpa berkata sepatah kata pun seolah tak peduli.
Tak ku sangka pula, hari itu adalah satu minggu sebelum emak yang mencintaiku hanyut disapu banjir bandang ketika mencuci pakaian di kali. Kenangan tentang emak menjadi bagian gunung kesedihan karena beliau kini telah tiada. Tubuhku lunglai pilu, sungguh aku sangat merindukanmu emak. Kenapa tidak bapak saja yang hanyut! Pikiranku masih belum mampu menerima kenyataan menyakitkan ini.
“Aku ingin robot-robotan!”
Wayang-wayangan dari batang daun singkong terjerembab ke tanah. Kali ini aku marah, bapak tak pernah memberiku mainan sebagus teman-temanku. Di antara semuanya, mainanku selalu yang paling jelek. Bapak tidak pernah membelikan mainan dari toko, bahkan dari Mang Ajat tukang mainan keliling yang mangkal di sekolah setiap hari Jumat. Bapak menatap aku dengan tajam, diraihnya sapu lidi, dia acungnkan ke atas. Aku ketakutan, tapi kali ini kekesalanku sudah memuncak sehingga aku memberanikan diri memandang wajahnya yang tak memiliki ekspresi, datar. Semenjak kepergian emak, bapak memang selalu seperti itu.
“Jika kamu ingin robot-robotan, jadi ranking pertama dulu di kelasmu!”
Sapu lidi itu bapak lempar ke pojokan, serta merta dia mengendong aku di punggungnya. Lalu menaikan aku ke sepeda ontelnya dengan kayuhan cepat ke jalanan penuh turunan dan tanjakan yang berbatu. Dua puluh menit berlalu, setibanya di sekolah dia menurunkan tubuhku dan kembali mengayuh cepat, pergi bergegas meninggalkanku tanpa sepatah kata. Membiarkanku masuk ke kelas dengan binar mata menahan tangis berkaca-kaca.
Bapak tampak bergegas menuju sawah milik pak mandor. Sepuluh petak sawah mesti bapak urusi segera. Musim panen telah tiba, bapak biasanya mendapat jatah setengah dari hasil panen padi, kerja kerasnya selama 4 bulan mengurusi sawah. Hasil panen kali ini sepertinya cukup melimpah, tapi bapak masih saja pelit. Terbukti dari sarapan dengan menu yang tak berubah sejak dulu, bahkan dia hanya mengganti genting kamarku yang rusak dengan tambalan terbuat dari kantung plastik.
Padahal aku tahu hasil panen bapak selalu bertambah. Akhirnya sesuai janji, bapak membelikanku robot-robotan. Walau sebenarnya aku masih sedikit kecewa karena bapak membelikan mainan yang sudah ketinggalan zaman. Temanku memiliki robot-robotan yang bisa berjalan, menyala dan berbunyi sendiri. Sedangkan robot-robotan milikku hanya seonggok plastik yang tak dapat digerak-gerakkan.
Bapak memang pelit, padahal aku sudah menjadi yang terbaik di sekolah. Dia hanya berujar sembari mengajari aku membuat pola dan memotong papan bekas dengan gergaji, membentuknya seperti robot lainnya yang bisa digerakkan. “Jika kamu anggap mainannya jelek, coba saja kamu buat yang lebih bagus dari ini!”
Dia tahu, aku memang tak bisa membuat robot-robotan yang lebih bagus, bahkan yang setara pun dengan pemberiannya mungkin tak sanggup. Bapak memang selalu mengajariku menyelesaikan sesuatu. Terkadang dia begadang membaca buku pelajaran dalam remang hanya untuk mengajarkan pelajaran yang belum aku kuasai. Tapi dia tetap jahat, ketika aku malas mengerjakan PR, beberapa lidi telah siap menempel dengan kecepatan tinggi ke tangan dan kaki.
Tubuhku lemas, panas, dan sekujurnya seperti remuk. Lima hari aku terkulai di sini terkena penyakit tipus, lima hari pula setiap aku selesai memejamkan mata, di pandanganku bapak selalu berada di sana menjadi yang pertama terlihat. Dia bahkan tak segan menggendong tubuhku, seberat 61 kilogram ketika ingin ke jamban. Aku terbaring tak berdaya di dipan, bapak berada di sampingku menyuapi bubur dan telur rebus buatannya. Di usiaku yang remaja ini, bapak menjadi sebaik almarhum emak. Pun begitu masih sedikit jahat, karena selalu memaksaku menelan pahitnya obat dengan kasar, tanpa ampun.
Ini adalah hari yang bersejarah, aku tengah diwisuda. Tak tanggung-tanggung menjadi lulusan universitas ternama. Tapi bapak tak menghadiri prosesi bersejarah ini, tak seperti temanku yang lain yang ramai bersama keluarganya. Dalam momen ini aku hanya seorang diri walaupun menerima sepucuk ijazah dengan predikat “Suma Cum Laude” dan mewakili seluruh mahasiswa untuk memberi beberapa kata sambutan di podium. Riuh tepuk tangan mengakhiri pidatoku yang sempurna. Kebahagiaanku tak sempurna, karena bapak tak hadir bersama. Sudah belasan tahun berlalu. Bapak mungkin tak mencintaiku, tak bangga anaknya kini menjadi sarjana.
Seekor anjing cerdas buatan manusia berlari menuju sebuah pusara, anak-anak yang ikut orangtuanya berziarah di sana terpaut mengikuti gerakan anjing itu. Anjing itu adalah AIBO, hasil kecerdasan buatan dengan sensor canggih dan algoritma yang membuatnya seperti hidup. Robot itu ku miliki cuma-cuma karena merupakan bagian dari tim yang membuatnya. Menjadi salah satu lulusan Osaka University memudahkanku untuk bergabung bersama perusahaan besar di Jepang.
Aku tak menyangka bapak meninggal dunia. Padahal beberapa bulan yang lalu, aku dan bapak baru saja merenovasi rumah, bagian genting kamarku kami buat transparan. Di malam yang cerah dengan bintang dan purnama bapak menunjuk sebuah bintang, lalu mengarahkan telunjuknya ke dadaku. Tak ku sangka itulah senyuman terakhir bersamanya.
“Lihatlah dari sebuah celah, lihatlah lebih jeli! Kau akan melihat luasnya semesta ini. Tunjuk satu bintang itu dan terbanglah ke sana!” Tentu itu hanya kiasan, kini aku mengerti bahwa akulah bintang itu.
Bapak adalah orang paling dermawan, karena mengumpulkan seluruh hartanya selama ini hanya untuk melihat kebanggaannya dapat menyelesaikan studi di tempat yang tinggi. Bayangkan seorang buruh tani mampu menerbangkan anaknya di universitas ternama, sampai melanglang ke luar negeri.
Bapak, lihatlah! Berkat dirimu aku berhasil membuat mainan yang lebih baik dari mainanku dulu. Mainan darimu yang masih terpajang dengan baik di lemari, tersimpan tinggi berjajar dengan puluhan tropi. Selama ini bapak ternyata mencintaiku tanpa cela, meski tak ku sadari, meski cinta itu tak terucap, tetapi nyata mendekap. Terima kasih bapak, teriring doa untukmu, semoga diampuni dari dosa, bahagia ditempatkan Allah di surga.

lestari

Masa kecil adalah masa yang menyenangkan, berbeda dengan diriku yang hidup di sebuah desa yang dikelilingi hamparan sawah yang luas. Saat aku terlahir di dunia, sanak keluargaku sangat bahagia. Bagaimana tidak, di antara keenam cucu nenekku, hanya aku yang berjenis kelamin perempuan. Saat badanku masih memerah, ayah melantunkan lafaz adzan, pertanda bahwa aku terlahir dalam keadaan Islam. Saat pemberian nama, ibu memberiku nama “Lestari” karena terinspirasi dengan nama salah seorang tokoh cerdas di Indonesia. Ibu mengidam-idamkan kelak anaknya menjadi wanita cerdas.
Ketika memasuki usia dua tahun, aku diasuh oleh nenek karena ibuku baru saja melahirkan anak keduanya, adikku. Ditambah lagi ayah yang sibuk dengan rutinitasnya di kantor. Bersama waktu, nenek berjanji akan mengembalikkanku ke pangkuan ibu ketika adik sudah balita. Hingga usia lima tahun, hanya ada sawah dan kebun dalam duniaku. Ku nikmati kehidupan di daerah yang sejuk, setiap pagi bersama kakek dan nenek berjalan melewati pematang sawah sembari mendengar kicauan burung-burung yang merdu. Di kebun, nenek selalu bercerita tentang masa lalu yang pernah ia rasakan, sejak zaman orde baru hingga saat ini. Hingga tak ada waktu untuk mengenal film kartun, film kungfu, bahkan dunia boneka. Aku hanya mengenal monyet di kebun.
Memasuki usia lima tahun, aku kembali ke pangkuan orangtuaku. Aku pun sekolah di taman kanak-kanak atau yang biasa dikenal dengan TK. Di TK, aku sulit beradaptasi. Teman-temanku mahir berbahasa Indonesia, sedangkan aku hanya bisa berbahasa daerah. Tak mampu memegang pulpen, apalagi membaca. Guruku mungkin menyerah karena aku tidak pandai. Yang jelas ada ijazah yang ku miliki agar bisa lanjut di Sekolah Dasar. Akhirnya aku pun duduk di bangku SD dan mengenakan seragam putih merah.
Pelajaran dimulai, aku merasa terasing, entah bagaimana cara agar bisa berkenalan dengan teman-teman, aku hanya memilih sendiri di sudut kelas. Di luar kelas, terlihat banyak yang mengenakan seragam yang sama denganku. Ada yang bermain kelereng di lapangan, ada yang bermain kasti, sedangkan aku hanya membisu sembari melihat kiri dan kanan. Tiba-tiba ada yang menghampiriku.
“Niga asemmu?”
Aku hanya mendongkol. Lalu ia kembali bertanya, “Niga asemmu?”
Aku jawab, “Hilda Lestari Harmani, sering disapa Tari.”
“Hay Tari, namaku Dian. Yuk kita main kasti.” ajak Dian.
“Iya, terima kasih Dian. Aku duduk di sini saja.”
“Ayolah Tariiiiiiiii!!” sambil menarik tanganku.
Aku hanya geleng-geleng kepala.
Itulah aktivitas rutinku di sekolah, hanya ada diam dan diam. Hingga saat ini, aku menjadi anak bodoh. Tahun demi tahun berganti, setiap penyerahan raport, aku selalu mendapat peringkat terakhir. Bagaimana tidak, aku dididik oleh sawah, kebun, dan monyet. Tiada bimbingan bahkan secuil motivasi dari nenek, hingga kembali ke pangkuan ayah ibu. Beberapa semester telah ku lewati, semakin hari aku semakin bodoh. Hari itu, aku belajar matematika. Saat Ibu Ida menulis 8 X 7 di papan tulis, temanku menjawabnya dengan tepat. Tiba-tiba Ibu Ida menatapku lekat-lekat, “Jawabannya lima puluh enam! Dasar anak bodoh!”
Yah, luar biasa bodoh saat itu. Guru killer itu sangat mudah memvonisku “anak bodoh”. Padahal di lain sisi, ayahku adalah orang yang pandai. Buktinya, saat sekolah, selalu meraih peringkat satu, di bangku kuliah, nilainya selalu tinggi, ia juga aktif di Resimen Mahasiswa. Saat di Pascasarjana, ia adalah magister terbaik. Begitu pun dengan ibuku, saat sekolah selalu meraih peringkat satu, berbakat di bidang seni, ketika menyanyi suaranya sangat merdu. Tetapi, mengapa anaknya terlahir seperti ini? Oh Tuhan, sungguh ini adalah sebuah opini.
Seminggu kemudian, peristiwa memalukan terjadi, lagi-lagi belajar matematika. Saat giliranku untuk menjawab 9 X 9, aku hanya mendongkol luar biasa. Aku tak tahu sama sekali tentang perkalian. Tiba-tiba, Ibu Ida membentur kepalaku di dinding kelas lalu mencubit paha dan betisku hingga berdarah. Aku pun berlari tertatih-tatih menuju rumah. Aku anggap sekolah menjadi malapetaka. Kebetulan, hari itu ayah tidak masuk kantor. Ayah pun bergegas menemui guruku.
“Dasar guru tidak tahu aturan! Berani sekali menganiaya anak saya!” bentak ayah.
“Maaf Pak. Begini, anak Bapak memang belum pandai berhitung. Mana bisa naik kelas kalau begini?”
“Iya, saya tahu Bu. Bahkan saya sangat paham tentang dunia pendidikan. Menghukum anak itu wajar, tapi kalau keterlaluan seperti ini, saya jadi tidak suka dengan sikap Ibu.”
Akhirya kabar tak sedap itu pun tersebar dan guruku dipecat. Waktu berlalu begitu saja, namun masih meninggalkan cerita yang tak layak diperbincangkan lagi. Satu sekolah bahkan satu kampung sudah tahu bahwa Tari dianiaya oleh guru killer. Pernah suatu hari, ku urungkan niatku untuk putus sekolah. Aku hanya anggap bahwa menuntut ilmu itu membuat hati dan tubuh menjadi teraniaya. Aku berdiam diri di rumah. Saat ayah kehabisan akal membujukku, ayah mengambil sebatang kayu kecil lalu memukul betisku hingga kayu itu patah. Saat itu aku berpikir bahwa aku harus bangkit. Aku masih anak-anak, pikiran dan karakterku seperti orang dewasa.
Aku yang dulu hidup bersama nenek di desa terpencil, setelah kembali bersama ayah ibu, akulah yang selalu melaksanakan rutinitas ibu, mencuci pakaian ibu, ayah, dan adik. Menjaga adik ketika ibu dan ayah sibuk dengan urusan masing-masing. Pernah suatu hari, ayah terlambat menerima gaji, saat adik menangis kehabisan susu, akhirnya susu formula yang diminum, diganti dengan air tajin.
Aku merenung. Jika sifat manja selalu ada, maka lingkungan akan murka kepadaku. Namun jika sikap dewasa itu selalu ada, aku yakin bahwa lingkungan akan cinta kepadaku. Di usia diniku, aku telah menulis sepuluh target terbesar. Target awal aku harus melanjutkan pendidikan di pesantren, setalah itu aku ingin menjadi seorang penulis.
Hari yang ku nanti telah tiba, saat penerimaan raport, aku mendapat peringkat sepuluh. Inilah menjadi kebanggan tersendiri, dari peringkat terakhir naik menjadi urutan kesepuluh. Libur panjang tiba, aku bersama ayah, ibu, dan adik berlibur ke Pulau Dewata, Bali. Keliling Indonesia adalah impianku sedari dulu, aku harap setelah liburan di Pulau Dewata, aku akan menjelajahi Negeriku mulai dari Sabang sampai Merauke.
Mengabiskan waktu di Bali sangatlah berkesan. Akhirnya liburan pun usai. Kini aku kembali beraktivitas di sekolah. Hari pertamaku di kelas lima. Semua adalah baru, wali kelas baru, seragam baru, dan suasana baru. Guruku sangat baik, ia tidak pernah memukul kami. Setiap minggu kami menghabiskan waktu bersama di pinggir pantai. Selama aku di kelas lima, di situlah aku belajar giat. Aku harus mendapat ranking satu, dengan semangat aku harus mengalahkan teman-temanku. Aku harus menjadi bintang gemerlap buat ayah dan ibuku.
Beberapa bulan terlampaui, aku diutus untuk ikut lomba olimpiade tingkat kecamatan, aku pun juara satu. Hingga ke tingkat provinsi, aku mewakili provinsiku menuju tingkat nasional. Di tingkat nasional itulah aku bertekad untuk juara satu agar aku mendapat hadiah tour ke Brunei. Tapi sayang aku juara dua, aku diberi hadiah satu unit sepeda motor. Hadiahku ku persembahkan buat ayah dan ibu yang selama ini berjuang untukku.
Hari-hariku terasa bahagia, bersama keluarga kecilku, bersama sahabatku, Dian yang senantiasa mendengar segala keluh dan kesahku. Setahun telah berlalu, setelah ujian nasional diadakan, hari penamatan pun tiba. Aku mewakili teman-teman untuk menyampaikan pesan dan kesan. Protokol membacakan susunan acara, acara kelima tibalah giliranku. Ku langkahkan kakiku dengan rasa gugup berdiri di depan orang banyak. Ku mulailah sambutanku.
“Bapak Bupati, Bapak Kepala Sekolah yang saya hormati, serta hadirin dan hadirat yang tidak sempat saya sebut satu persatu yang saya hormati pula, teristimewa kepada teman-temanku yang saya sayangi. Assalaamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Puji dan syukur kepada Allah SWT, yang memberikan berkah kepada kita semua, juga nikmat yang tiada tara. Shalawat dan salam senantiasa kita curahkan kepada Nabi Muhammad Saw, nabi yang menjadi uswatun hasanah bagi kita sekalian. Saya berdiri di sini, mewakili teman-teman untuk berbicara menyampaikan kata sambutan bukan berarti saya orang hebat, tapi yang saya miliki hanyalah tekad kuat dan semangat menimba ilmu di sekolah tercinta ini.”
“Alhamdulillah kami lulus seratus persen setelah berjuang menuntut ilmu selama enam tahun dan melewati ujian nasional dengan penuh perjuangan. Akhirnya kita berpisah, dengan berat hati itu sudah menjadi sunnatullah bahwa dimana ada pertemuan, di situ ada perpisahan. Terima kasih kepada orangtua yang telah berjasa, memberikan kami dukungan, tanpa kalian kami tidak bisa apa-apa. Saya meraih prestasi bukan karena saya jago, tapi berkat dari doa dan dukungan Ibu dan Ayah saya.”
“Begitu pun ucapan terima kasih kepada Ibu dan Bapak guru, terima kasih atas segala dedikasimu, tanpamu kita tidak bisa menulis, membaca hingga berhitung. Tanpamu kita tidak bisa membedakan baik dan buruk. Semoga kami sukses dengan ilmu yang engkau berikan bisa menjadi tatanan hidup kedepannya. Juga buat teman-temanku sekalian, terima kasih atas persahabatan yang selama ini kita telah jalin bersama.”
“Saya berharap semoga selamanya kita selalu menjadi sahabat yang baik, jangan ada rasa benci di antara kita. Akhirnya, saya ucapkan sekian dan terima kasih. Mohon maaf bila ada kekurangan. Wassalaamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Setelah menyampaikan sambutan, semua yang hadir bertepuk tangan.

peluh seorang remaja

Saat itu sang surya masih sanggup memancarkan sinarnya dari ufuk timur, Fahmi adalah remaja yang berasal dari pelosok desa di Aceh, Fahmi adalah remaja yang berketurunan dari keluarga yang kurang mampu, ayahnya hanya sebagai buruh tani, dan ibunya bekerja serabutan, sedangkan Fahmi juga masih mempunyai dua orang adik keduanya perempuan yaitu Zahra dan Anisa yang keduanya masih sekolah di sekolah dasar. Fahmi adalah anak yang pertama. Fahmi baru lulus dari SMA Fahmi memang berbeda dengan teman-teman lainnya Fahmi adalah anak yang saleh, rajin, selalu membantu orangtuanya untuk mencari nafkah.
Sejak SMA Fahmi sangat bercita-cita untuk kuliah namun Fahmi selalu ragu dengan apa yang diinginkannya, karena dari faktor ekonomi sangat tidak memungkinkan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi, cita-cita Fahmi memang sangatlah mulia. Fahmi ingin menjadi seorang da’i, menjadi tokoh masyarakat, dan satu yang sangat diimpikan oleh Fahmi adalah menghajikan kedua orangtuanya ke tanah suci. Karena Fahmi tahu bahwa kedua orangtuanya ingin sekali pergi ke tanah suci.
Terlebih adalah ibunya yang sangat ingin melihat ka’bah secara langsung dan bisa salat di depan ka’bah, namun selama ini Fahmi masih memendam dalam-dalam impiannya untuk kuliah, karena Fahmi takut keinginannya tidak direstui oleh orangtuanya dan dia juga takut kalau nanti orangtuanya terbebani dengan apa yang diinginkan Fahmi yaitu kuliah, dan Fahmi juga paham biaya yang harus dikeluarkan untuk biaya kuliah itu tidak sedikit. Sedangkan dia masih mempunyai dua adik yang masih sekolah dan juga membutuhkan biaya.
Hari demi hari telah lewat dengan begitu saja. Ambisi Fahmi untuk kuliah supaya bisa menjadi seorang da’i dan menghajikan kedua orangtuanya ke tanah suci semakin menggebu-gebu, tetapi semuanya masih belum tercapai bahkan Fahmi pun belum mengungkapkan rasa ingin kuliahnya kepada orangtuanya, Fahmi semakin galau Fahmi masih sangat bingung apakah dia harus mengungkapkan isi hatinya yang selama ini masih terpendam atau tidak! setiap harinya Fahmi selalu melamun. Fahmi selalu memikirkan apa yang harus ia lakukan.
Suatu ketika ibu Fahmi mendekati Fahmi yang sedang melamun, “Fahmi.” ibu Fahmi menegur Fahmi.
“kenapa kamu Nak? kok kamu melamun terus?”
“nggak Bu, Fahmi tidak kenapa-kenapa Bu,” ucap Fahmi kepada ibunya. “sudahlah Nak, jangan begitu Nak! ungkapkan! apa yang sebenarnya yang sedang terjadi pada dirimu Nak?” ibu Fahmi membalas omongan Fahmi. Akhirnya tanpa ragu-ragu Fahmi pun mengungkapkannya kepada orangtuanya.
“Bapak, Ibu, sebenarnya..” dengan suara putus-putus karena ragu dan dengan wajah tertunduk, “sebenarnya Fahmi ingin kuliah.” setelah Fahmi mengungkapkan keinginannya. Suasana di rumah itu menjadi hening, raut muka orangtua Fahmi yang agak berbeda dengan biasanya. “insya Allah Nak Fahmi, Bapak dan Ibu akan berusaha untuk menguliahkan kamu Nak. Asal kamu serius di kuliah nanti.” ucap orangtua Fahmi, dengan hati yang bahagia Fahmi mengiyakan perkataan orangtuanya tadi.
“kamu mau kuliah di mana Nak? mau mengambil jurusan apa?” tanya orangtua Fahmi.
“saya mau kuliah ke jawa Pak, Bu! saya mau mengambil jurusan agama islam, saya ingin menjadi seorang da’i, dan setelah saya sukses nanti saya ingin menghajikan Bapak dan Ibu,” ucap Fahmi kepada orangtuanya. “cita-citamu sungguh sangat mulia Nak. Ayah dan Ibu akan berusaha untuk yang terbaik untukmu, Nak.” Fahmi mengangguk pelan, Fahmi merasa sangat bahagia dengan respon orangtuanya yang positif.
Berkat usaha keras kedua orangtua Fahmi demi mencari nafkah untuk biaya kuliah, serta doa Fahmi yang selalu menyertai usaha keras orangtuanya. dengan tekad yang besar dan biaya yang pas-pasan. Akhirnya Fahmi pun berangkat, sebelum Fahmi berangkat Fahmi pamit kepada orangtuanya.
“Bapak, Ibu, Fahmi pergi dulu, doakan Fahmi semoga ketika Fahmi pulang nanti sudah tercapai semua cita-cita mulia Fahmi,”
“iya Nak! Semoga cita-cita muliamu tercapai dengan mudah Nak! Jangan lupa belajarnya yang tekun, jagalah dirimu baik-baik Nak, dan yang terpenting jangan sampai tinggalkan salat Nak!” ibu berkata kepada Fahmi.
“Adikku Zahra dan Anisa belajarnya yang rajin Dik! supaya menjadi anak yang pintar.” ucap Fahmi kepada adiknya, saat itu suasana sangat haru, air mata menggenang di setiap sudut mata keluarga itu, Fahmi berjabat tangan dengan orangtuanya. Dan memeluk erat tubuh orangtuanya dan juga adik-adiknya yang turut sedih dengan perginya kakak mereka, “assalamualaikum..” Adalah kata yang terakhir diucapkan Fahmi. Fahmi memang beragkat sendiri tanpa ditemani siapa pun dengan tekad yang kuat, karena dia yakin bahwa ia sedang berada di jalan Allah SWT.
Akhirnya Fahmi pun sampai juga di jawa tepatnya di jawa timur, kota pahlawan, di sanalah Fahmi kuliah. Fahmi selalu bekerja keras agar cita-citanya segera tercapai, belajar dengan tekun, ibadahnya semakin rajin, selalu mendekatkan diri kepada sang kuasa. Walaupun tidak sedikit dan tidak mudah halangan yang harus dilewati oleh Fahmi, Fahmi tidak gentar demi menggapai cita-citanya yang mulia. Karena Fahmi tidak ingin membuat orangtua mereka kecewa.
Fahmi ingin membuat orangtuanya menangis terharu oleh keberhasilan Fahmi, berkat usaha Fahmi yang keras Fahmi pun dilirik oleh pihak kampus dan Fahmi mendapatkan beasiswa penuh dari kampusnya karena Fahmi terpilih sebagai mahasiswa yang aktif, pintar, dan akhlaknya yang mulia. Fahmi pun langsung menghubungi orangtuanya, dan sekarang Fahmi sudah tidak lagi dibiayai oleh orangtuanya lagi, di samping itu Fahmi juga bekerja sebagai guru mengaji anak-anak kecil di mesjid-mesjid untuk biaya kehidupan sehari-hari.
Selama 3 tahun lebih Fahmi menempuh perjalanan kuliahnya, Fahmi sudah sampai di penghujung perkuliahan Fahmi. Fahmi sudah tidak sabar lagi untuk segera lulus dan dan pulang ke rumah nanti sudah menjadi seorang da’i. Semakin hari Fahmi semakin semangat belajar, belajar. Karena Fahmi harus menghadapi ujian yang menentukan lulus tau tidaknya, namun entah kenapa Fahmi selalu kesulitan dalam belajar, Fahmi sering melamun, pikirannya melayang-layang Fahmi pun meminta kepada Allah dalam salatnya. “Ya Allah! Apa yang sedang terjadi kepadaku ya Allah, ya Allah berikan kemudahan kepadaku untuk menghadapi ujian ini ya Allah, amiiin.”
Keesokkan harinya Fahmi semakin galau padahal besok merupkan hari ujian penentuan, entah kenapa semakin hari Fahmi semakin galau, selalu gelisah, Fahmi selalu bertanya-tanya meminta pertolongan kepada sang kuasa. Apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya. Waktu berselang beberapa menit saja. Ada seorang memakai baju oranye, motor oranye. Mengetuk pintu rumah kos Fahmi tok-tok-tok, Fahmi membuka pintu. “dengan saudara Fahmi?” tanya seorang kurir. “iya betul.” lalu si kurir memberikan sepucuk surat kepada Fahmi, detak jantung Fahmi berdebar dengan begitu kencang, apa yang sebenarnya terjadi.
“Untuk Fahmi. Assalamualaikum, maaf Nak Fahmi sengaja baru Bapak kirim surat Bapak takut menggangu kulaihmu Nak. Innalllahiwainnailairajiun, Ibumu telah meninggal jumat lalu Nak, Ibumu sempat menitip pesan kepada Bapak supaya disampaikan kepadamu. Ibumu ingin kamu belajarnya supaya semakin rajin, ibadahnya semakin ditingkatkan lagi. Pesan Bapak, ikhlaskan kepergian Ibumu tetap fokus ke kuliahmu. Jangan kau sesali lagi Nak, doakan saja Ibumu, semoga Ibu tenang di alam sana. Bapak.”
Air mata Fahmi mengalir dengan begitu derasnya, Fahmi serasa tidak berdaya lagi, pikirannya melayang-layang. Sambil melamun membayangkan jasa-jasa ibunya semasa hidupnya, Fahmi seperti lupa bahwa besok adalah ujian penentuan, Fahmi hanya bisa memohon pertolongan kepada Allah, “Ya Allah berikanlah ketabahan pada hambamu ini, semoga kau berikan ketenteraman kepada Ibuku di alam sana amiin.”
Esok telah tiba, Fahmi masih dihantui oleh kesedihan yang mendalam dengan kepergian orang yang disayanginya. Fahmi belum sempat belajar sama sekali, Fahmi yakin bahwa Allah selalu ada untuknya. Setelah sampai di kampus. Fahmi dihampiri oleh sahabatnya. “Fahmi kamu kenapa apa yang sedang terjadi padamu?” tanya Ahmad.
“innalillahiwainnalillahi rajiuun Ibuku meninggal.” jawab Fahmi, Ahmad hanya tertunduk dan mengucap innalillahiwainnailaihirajiiun, dengan menahan air matanya yang mulai menggenang dengan meninggalnya ibu sahabatnya. “Teeet..” bel berbunyi Fahmi dan Ahmad pergi memasuki ruang ujian. Setelah beberapa jam berselang. Ujian pun selesai dan Fahmi segera kembali ke kosnya, dan besok masih harus kembali ke kampusnya lagi untuk melihat hasil ujian Fahmi apakah lulus atau tidak.
Mentari pagi sudah muncul saatnya Fahmi berangkat ke kampus. Di kampus Fahmi bertemu dengan Ahmad.
“bagaimana ujian kemarin Fahmi?” tanya Ahmad.
“alhamdulillah lancar Ahmad”
“syukurlah.” sahut Ahmad, “ayo kita lihat pengumumannya.” ajak Ahmad.
Atas izin Allah Fahmi pun lulus dengan nilai yang sempurna begitu juga dengan Ahmad, setelah itu Fahmi langsung menyelesaikan urusan-urusan kampus. Setelah semuanya selesai Fahmi langsung pulang. Fahmi sudah tidak sabar ingin bertemu keluarganya. Dan ingin berziarah ke makam ibunya, Fahmi berpamitan dengan sahabatnya.
“Ahmad aku mau pulang dulu Ahmad, jangan pernah lupakan persahabatan kita selama ini, selamat berjuang semoga kau menjadi orang yang sukses.”
“iya Fahmi, amiiin, dan semoga kamu juga menjadi orang sukses juga.” balas Ahmad, Fahmi memeluk erat tubuh Ahmad. “Assalamualaikum.” ucap Fahmi.
Akhirnya Fahmi sampai juga di kampung halamannya. Dan Fahmi langsung berkunjung ke makam ibunya. Tak lama setelah Fahmi lulus dan pulang ke kampungnya banyak tawaran masyarakat kepada Fahmi supaya mengisi pengajian. Sampai suatu saat nama Fahmi mulai dikenal sampai ke mana-mana, dan dari situlah cita-cita Fahmi menjadi orang yang sukses tercapai, Fahmi bisa menghajikan ayahnya walau tidak bersama ibu.